Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

Jul 16, 2008

Tips n Trick Menulis Puisi dan Cerpen

Halo temen-temen, apa kabar?
Udah lama juga ya ngga ngobrol sama kalian di blog. Maaf ya, beberapa minggu lalu gagas harus fokus ke acara Pesta Buku Jakarta. Itu lho, acara pemeran buku tahunan yang diselenggarakan IKAPI.

Anyway, gagas tadi buka-buka milis, terus gagas nemuin postingan yang menarik nih dari salah satu temen milis. Postingannya tentang tips n trik menulis cerpen dan puisi. Gagas tulis ya buat kalian semua....


Tips "N" Tricks jago bikin puisi.
Pastiin Sobat Gagas dah tau mau bikin puisi kayak gimana.

Pastiin Sobat Gagas dah nemuin feeling yang pas untuk puisi yg akan Sobat Gagas buat.
Sobat Gagas enggak usah ragu untuk tulis SKETSA puisi di kertas buram. Maksudnya, biar mempermudah Sobat Gagas untuk mengkoreksi diksi atau hal2 lain yg bisa membuat puisi tersebut menjadi KLOP.
Tulis kembali hasil revisi puisi dari kertas buram ke media yang ingin kalian sampaikan via puisi tersebut. Misalnya, kirim via email ke teman2 Sobat gagas, atau di ajukan ke Penerbit2 yang kompeten & memiliki KOLOM tersendiri untuk puisi.
Sobat Gagas enggak usah ragu untuk minta saran/kritik dari Teman, Sahabat, atau bahkan keluarga Sobat Gagas semua.


Tips "N" Tricks jago bikin puisi
Nah, sekarang kita beralih ke Cerpen!
Hal2 yang terkait pada TIPS "N" TRICKS puisi di atas, ternyata juga berlaku pada pembuatan Cerpen loh. Terutama point ke 3 dan ke 4. Itu penting banget. Karna dari kedua point tersebut, akan mempermudah Sobat Gagas dalam mengarang cerpen.
Gak usah takut kehabisan ide. Ide bisa di dapet dari banyak hal. Misalnya, lagi sarapan pagi bareng keluarga, jalan2 ke mall, ato malah lagi "nabung" di wc. Yang terpenting, Sobat Gagas udah punya SKETSA CERPEN sebelumnya.
Nah, untuk SKETSA CERPEN itu sendiri enggak usah terlalu panjang, tapi cukup mewakili hal2 yang nantinya bakal ada di cerpen Sobat Gagas. Misalnya, tokoh-tokohnya, alurnya, konfliknya, sampe dialog antar tokoh.
Selanjutnya, Sobat Gagas tinggal memperbaiki SKETSA CERPEN tersebut menjadi CERPEN yang sesungguhnya.
CERPEN yang pantas untuk dinikmati, dihargai, & diberi apresiasi
Tips n Trik by Dewi

Read More ..

Apr 4, 2008

INO: POINT OF VIEW

Tips ino: Point of view (POV)

Dari hasil belajar nulis lagi, ino mendapatkan ilmu baru yang dengan senang hati dibagiin ke temen-temen. Semoga berguna!


* * *
Sebelum mulai menulis, ada baiknya kamu tau dulu POV macam apa yang akan kamu pakai. Tadinya ino pikir POV tuh cuma ada tiga: sudut pandang orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga. Ternyata... BANYAK!

Objective viewpoint (OV): teknik ini pernah ino denger sebelumnya. Kalo di sekolah nulis, dikenal dengan istilah ‘kamera satpam’. Pada prinsipnya, penulis menjelaskan adegan seolah-olah dia menontonnya di layar televisi. Jadi, penjabaran karakter hanya sebatas apa yang mereka lakukan dan katakan: bukan apa yang mereka ketahui, mengerti, duga, percaya, dan sebagainya.

Contoh:
Andar membolak-balik halaman majalah dengan wajah bosan. Diliriknya jam yang masih menunjukkan pukul lima sore. Lalu, dia kembali memusatkan perhatiannya pada para model yang berpose dengan wajah ceria di halaman fashion.

Bayu menyenggol bahu Andar. “Nunggu siapa sih?”

“Bukan siapa-siapa.” Andar meraba saku kemeja dan menemukan kotak rokoknya. Diambilnya satu dan disulutnya. Sejurus kemudian lingkaran tipis asap rokok mengepul keluar dari mulutnya.

Bayu geleng-geleng kepala sambil tersenyum penuh arti. “Bukan siapa-siapa kok keliatannya cemas banget.”

Cara seperti ini cocok untuk percakapan dengan tokoh figuran yang nggak perlu. Pembaca kan nggak butuh tau tentang apa yang mereka pikirkan? OV cocoknya dikombinasikan dengan Limited Omniscient (LO). Entar deh dibahas.

In Modified Objective Viewpoint (IMOV): narator nggak tau apa yang sedang dipikirkan karakternya, hanya menebak-nebak. Kadang-kadang tebakannya salah, tapi perkiraan si narator benar-benar ‘jujur’ dan seiring kejadian sebenarnya akhirnya diketahui, narator maupun pembaca dibawa pada kesimpulan yang sama. Ini teknik yang sulit karena salah-salah bisa membuat pembaca malas melanjutkan cerita. Nggak cocok buat novel romance!

Contoh:
Sandra menatap bayangannya di cermin dengan gundah. Kenapa? Bukannya pertemuan tadi malam dengan gebetan lamanya baik-baik saja? Makan malam yang romantis, di bawah taburan bintang yang mengerjap-ngerjap cantik di langit secantik satin. Mungkin bukan. Tapi matanya berkaca-kaca dan sejurus kemudian sebutir air mata bening menetes di pipi. Apapun yang sedang ditangiskan Sandra, jelas banget adalah masalah berat. Meskipun menangis identik dengan perempuan, Sandra tidak termasuk di golongan rata-rata itu. Orangnya logis dan saat menghadapi masalah dia selalu menempatkan rasio di atas emosi. Jadi kenapa menangis?

In First-Person Subjective Viewpoint (IFPSV): ini sih udah terkenal banget ya? Sudut pandang orang pertama. Novel ditulis selalu berdasarkan sudut pandang subyektif (bisa saja tokoh protagonis, antagonis, apa aja!) dan menceritakannya dari sisi yang lebih personal. Meskipun kedengarannya gampang, pada kenyataannya cara menulis seperti ini membutuhkan jam terbang tinggi karena banyak batasan-batasan yang nantinya akan ditemukan penulis. Misalnya: si tokoh ‘aku’ nggak bakalan tau dong apa yang sedang dibicarakan orang lain tentang dirinya kecuali dia ‘dengar’ sendiri.

Contoh:
Gue sadar ini salah, tapi setiap kali melihat Andar bersama pacarnya, gue nggak bisa nahan diri. Sakit! Rasa sayang gue ke Andar terlalu dalam, terpupuk sejak gue dan dia masih berseragam putih biru. Gue sebangku dengan Andar pas kelas 1 di SMPN 2. Gue nggak butuh waktu lama buat nyadarin perasaan gue ke dia. Gue sayang dia... tapi kepengecutan gue membungkam fakta itu selama bertahun-tahun sampai akhirnya gue kena getahnya sendiri.

Sekarang, Andar udah punya pacar. Udah terlalu terlambat buat mengklaim dia sebagai milik gue.

Second-Person Narrative (SPN): Cara bercerita ini nyaris jarang dipake di dunia literatur, tapi bukan berarti nggak ada lho. Coba deh baca buku Melissa Bank yang judulnya The Girls’ Guide to Hunting and Fishing, dia make sudut pandang orang kedua: ‘kamu’.

Contoh:
Ini hari pertamamu masuk kerja. Harus perfect dong... jadi sejak tiga per empat jam yang lalu, kau sibuk bolak-balik di depan cermin. Mengecek baju, rambut, sampai make up. Lalu, setelah kau memulaskan lipgloss sebagai sentuhan final di make up natural look yang kau rasa akan memesona teman-teman barumu di kantor nanti, kau mengambil parfum. Menyemprotkannya di belakang telinga, pergelangan tangan, selangkangan, dan kaki (salah satu wujud kebiasaan jaga-jagamu), dan... ke udara. Sedetik berikutnya, kau melewati udara beraroma lili dan lavender itu, berharap supaya wanginya menempel di rambut dan blazer barumu.

Kau tersenyum ke arah cermin. Sempurna, pikirmu.

Limited Omniscient (LO): Menurut ‘ahlinya’, ini yang paling cocok buat novel romance. Menceritakan dari sudut pandang orang ketiga, tetapi membatasi diri, tidak sampai mengetahui pikiran karakter orang lain di novel ini. Kenapa dibilang paling oke? Karena... dengan batasan seperti ini, pembaca akan penasaran dengan isi cerita karena disingkap sedikit-sedikit, dari sudut satu tokoh utama doang pula.

Contoh:
Saat melihat Andar, Sandra refleks menyentuh rambutnya. Menyelipkan anak rambutnya yang menjuntai di pelipisnya. Sandra tersenyum semanis mungkin. Ini momen yang selama ini dia tunggu-tunggu. Bertemu dengan Andar setelah sekian tahun lamanya. Ahh... tapi sekarang, rasanya seperti kemarin saja.

“Di sini!” Sandra melambaikan tangan, membuat Andar menoleh dan balas melambai. Saat melihat Andar berjalan ke arah yang berlawanan, Sandra punya firasat cowok itu belum melihatnya. Ternyata memang benar.

Sandra nyaris tersedak ludah sendiri saat melihat sosok Andar hanya berselisih dua langkah saja darinya. Mata Sandra dengan rakus menikmati setiap inci pesona imaji Andar yang kini semakin tampan saja. Rambut pendek yang acak-acakan, kaus hitam yang dipadu jaket dari bahan jeans. Benar-benar berubah dan membuat Sandra sempat meragukan dirinya sendiri, jangan-jangan ini bukan Andar yang dikenalnya dulu? Tapi keraguan itu lenyap saat matanya tertumbuk pada sorot mata lembut cowok itu. Masih memabukkan seperti dulu.

Sepasang mata itulah yang membuatku tak bisa berhenti memikirkannya, pikir Sandra, mendadak melankolis.

“Sori ya, gue telat,” kata Andar sambil menarik kursi di hadapan Sandra. “Macet banget gila!”

Sandra tersenyum. Satu lagi yang disadarinya, Andar belum menghilangkan kebiasaannya yang suka ngomong ceplas-ceplos itu. Bukan sesuatu yang buruk, sebenarnya. Malah... seksi, batin Sandra, mendadak tersipu karena pikirannya sendiri.

Omniscient Viewpoint (OmV): sudut pandang dengan narator bersikap seolah dialah tuhan. Mahatahu. Dia mengetahui yang dipikirkan para karakternya, latar belakang mereka, dan motif mereka melakukan sesuatu.

Contoh:
Saat wajah mereka berdekatan, terlalu berdekatan malah, harusnya keduanya sama-sama tahu bahwa sesuatu yang tak terelakkan akan benar-benar terjadi. Sandra menahan napas, pelan-pelan memejamkan mata. Menunggu.

Sebaliknya, di dalam diri Andar malah sedang terjadi pergulatan batin. Sebagian dari dirinya ingin mendekatkan bibirnya ke Sandra. Menumpahkan semua kerinduan yang tersimpan lama, hingga mengendap di dalam dirinya. Tapi, sebagian dirinya memperingatkan. Bukan keputusan baik, Andar, dia mengingatkan dirinya sendiri. Jangan lupa satu hal....

Andar mengumpat dalam hati. Rahangnya mengeras, tanda dia akan sulit sekali menahan godaan ini. Tapi harus.

“Maaf, San....” Andar menjauhkan diri. Kedua tangannya menggenggam kuat-kuat roda kemudi, berharap itu bisa menahan dirinya supaya tidak melakukan kesalahan yang dia yakin belakangan akan disesalinya.

Mata Sandra spontan terbelalak. Kaget, sekaligus malu. “Ke-kenapa?” bisiknya sedih.

Read More ..

Apr 2, 2008

Penerbit Mencari Kamu!!!

“Apa sih naskah yang dicari penerbit?”

Sering banget pertanyaan seperti ini datang dari para penulis yang berminat menerbitkan naskahnya di GagasMedia. Pertanyaan menarik, sih, sebenarnya.... Persoalannya, ini bukan pertanyaan yang gampang dijawab. Apalagi kalau pertanyaan itu diikuti pertanyaan tambahan: “Novel seperti apa sih, Mas/Mbak, yang berpotensi bestseller?” Duh, kalo udah begini, pura-pura sambungan teleponnya jelek aja deh. “Bzzt, bzzzt... halo, Mas, Mas? Aduh, sori... kayaknya teleponnya lagi trouble nih. Hubungi lagi kapan-kapan, ya?”

Tapi serius, selama jadi editor, kami juga sama nggak tahunya dengan kamu soal buku-buku mana yang bakal bestseller, mana yang jeblok di pasaran. Tapi kami tahu naskah mana yang bagus. Sayangnya, nggak banyak penulis yang menyadari ini. Saat naskah ditolak penerbit, bukannya berpikir, “Di bagian mana ya kurangnya naskah novelku ini?”, sebagian besar malah berpikir, “Tuh editor-editor bego banget sih, nggak tahu naskah yang bagus.”

I’ve been there, Guys. Sebelum jadi editor, aku juga penulis seperti kalian DAN mikir hal yang sama waktu ditolak. Lumayan lho, dua kali penolakan berturut-turut. Terus terang, ini sempat bikin aku trauma sampai ogah ngetik di komputer. Tapi, hehe, kapan-kapan ajalah kita bahas soal itu ya.

Nah, kembali ke pertanyaan besar yang masih belum juga terjawab: Kayak apa sih naskah yang dicari editor? Mereka-mereka itu merhatiin apa sih sebelum nerima atau nolak suatu naskah? Apa jangan-jangan mereka punya sixth sense, cukup sentuh cover-nya aja langsung tahu mo nolak naskah yang mana aja?

Padahal sebenarnya, sederhana aja lho mendeteksi naskah-naskah mana yang oke dan yang enggak. Dan nggak perlu sixth sense (yang begituan sih, kerjaannya Mama Laurent dan sodara-sodaranya—bukan editor!) segala, lagi.

Sinopsis
Nggak sedikit penulis yang salah mengartikan sinopsis sebagai tulisan di back cover. Selain karena singkat banget, biasanya ‘sinopsis back cover’ ini diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan khas macam: Jadi, kenapa juga akhirnya Fitri kemudian menerima cinta Seno? Dan, mampukah Seno bertahan tetap setia kali ini? Padahal ya, yang diharapkan itu justru sinopsis keseluruhan cerita. Mulai dari bab 1 sampe tamat. Dan, ini juga bisa kamu pakai untuk mendeteksi logika aneh dalam ceritamu. Misalnya, cukup masuk akal nggak Fitri minta putus dari Seno semata-mata karena dia nggak sengaja ngeliat cowok itu ngobrol sama cewek lain? Atau, perlu nggak Fitri pake acara ‘kabur’ ke Sydney segala gara-gara patah hati dari Seno, padahal dia kan harus kuliah?

Selain itu, alasan editor sangat merhatiin sinopsis adalah buat mastiin genre ceritanya. Di kantor Gagas, masing-masing editor punya kecenderungan memilih naskah tertentu. Karena suka romance, aku biasanya milih-milih baca novel romantis duluan. Alit punya kecenderungan baca genre B, dan sebagainya.

Ide Cerita
Semakin simpel suatu cerita, semakin gampang pembaca ‘masuk’ ke dalamnya. Biar lebih gampang mengerti arti kalimat barusan, coba bandingin dua cerita ini:

a) Trauma yang dialami Mariana seolah nggak ada habis-habisnya. Masa kecilnya dihabiskan dengan ketakutan besar pada kakaknya sendiri. Rupanya, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, kakak tertuanya itu sering melecehkan Mariana. Dan setelah melakukannya, Mariana diancam supaya tutup mulut. Makanya, begitu Mariana mendapat restu untuk mengadu nasib di jakarta, dia langsung pergi tanpa pikir panjang sama sekali. Tapi... keadaannya di Jakarta ternyata nggak lebih baik. Awalnya memang manis, Ruben (atasannya di restoran Cina tempatnya bekerja di Jakarta) dekat dengan Mariana bahkan akhirnya menyatakan cinta. Tapi, suatu malam, sesuatu tak terelakkan pun terjadilah. Mariana tahu-tahu mengandung anak Ruben. Laki-laki itu tiba-tiba berubah sikap dan tidak mau bertanggung jawab atas bayi Mariana. Malah, dia mengusahakan sebisa mungkin untuk mengeluarkan Mariana dari tempat kerja. Ruben tak ingin tunangannya mencium hubungan dirinya dengan Mariana. Dsb....

b) Gadis sangat tergila-gila dengan kekasihnya, Joe. Tapi sayang, belakangan rasa cinta itu malah membacanya ke kehancuran. Joe terlalu posesif dan nggak segan-segan melontarkan kata-kata kasar kepada gadis. Mereka pun lalu berpisah. Joe meninggalkan Gadis, tetapi kenangan tentang Joe terus tersimpan di dalam hatinya. Malah, Gadis terobsesi mengejar cinta Joe kembali. Dalam perjalanannya menemukan Joe, dia berkenalan dengan seorang laki-laki. Seseorang yang mengajarinya bahwa cinta itu sebenarnya lembut. Kekerasan apa pun tak layak bertamengkan cinta. Kini dilema muncul di dalam diri Gadis, apakah dia akan meneruskan pencariannya atau berhenti dan melabuhkan hatinya pada laki-laki itu. Dsb....

Spot the difference? Saking bombastisnya cerita A, banyak pertanyaan tak terjawab malah terlewat begitu saja. Misalnya: gimana ceritanya seorang cewek yang trauma karena pelecehan seksual seperti Mariana, bisa dengan gampang dekat dan sampai berhubungan intim dengan cowok lain? Penulis cerita A terlalu terfokus pada ‘derita Mariana yang seolah tak ada ujung’ sehingga melupakan ketakutan terbesar dalam diri tokohnya itu. Sebaliknya, di cerita B, walaupun tokoh Gadis terkesan bego, karakternya itu masih bisa dibenarkan pembaca karena alasan gadis melakukan itu adalah karena ‘cinta’. Dan, alasan ini dipertahankan terus oleh penulis sampai Gadis kemudian dibimbangkan oleh wajah cinta lain yang ditemuinya.

Yep, kuncinya cuma dua: konsistensi dan cara penulis menjelaskan logika-logika di dalam cerita. Jangan salah lho, pembaca itu sama telitinya dengan detektif. Sekali dia menemukan sesuatu yang ganjal di suatu cerita, uh, udah deh... itu melulu yang disebar-sebarin ke teman-temannya. “Eh, tau nggak novel A itu aneh banget deh. Bla, bla, bla....” Makanya, saat membaca naskah, persoalan konsistensi dan logika itu diperhatiin banget sama editor.

Setting
Seperti yang udah dijelasin di tips sebelumnya, setting itu nggak sekadar tempelan untuk manjang-manjangin cerita. Kamu bisa kok ngawin-ngawinin setting dengan karakter, atau dengan plot, atau malah threesome sekalian. Setting yang bagus memanjakan pembaca. Setting yang jelas... pastinya, bikin bingung.

Karakter
Karakter itu nggak cukup hanya dijelaskan sebagai ‘anak SMU yang berambut ikal dan berkulit hitam manis’. Pembaca akan menyimpulkan si karakter berdasarkan caranya berbicara, gestur tubuh, tindakan-tindakan, dan motivasinya melakukan sesuatu. Cara editor mendeteksi kelemahan penulis dalam mengelola kepribadian karakternya adalah dengan memperhatikan voice and tone tokohnya itu. Perhatiin deh:

“Hei, kalian dalam rangka apa dateng kemari?” sapaku, kembali ceria. Kusandarkan sapuku di salah satu rak lalu datang menghampiri untuk menyambut mereka. Mataku melirik lagi ke cowok di belakang Nanda. Siapa sih dia? Pacar barunya Nanda ato Ella? Cute juga...

Aku nggak bisa menahan diri untuk menilai penampilannya. Rambutnya ikal dan sedikit berantakan, tapi manis, ngingetin sama Ebes—suaminya Rachel Maryam. Menurut perkiraanku dia cuma beberapa senti lebih tinggi dariku, lebih putih dan tampangnya agak indo. Aku jadi punya teori baru, cowok itu mungkin sodaraan sama Nanda, dia kan indo juga?

Kaget nggak kalo aku bilang tokoh ‘aku’ di potongan cerita di atas adalah cowok? Nah, bandingkan kadar maskulinnya si tokoh ‘aku’ di cerita kedua ini.

“Tumben kemari!”

Aku menyandarkan sapuku di salah satu rak, lalu menghampiri mereka yang berdiri di pintu masuk. Diam-diam melirik cowok di belakang Nanda. Rambutnya ikal dan sedikit berantakan. Menurut perkiraanku, tingginya berselisih satu sentimeter saja dariku, lebih putih, dan tampangnya agak indo. Diam-diam aku mengira-ngira identitas cowok itu. Dugaan pertama, mungkin dia cowok barunya Nanda. Perkiraan kedua, yang sebenarnya agak lemah, mungkin dia dan Nanda sodaraan.

Jadi, gimana? Siap nerima tantangan buat ngirimin naskah oke ke penerbit? Kita tunggu lho!

Read More ..

Mar 19, 2008

Tentang Setting by Christian

Sebelumnya, aku cerita dulu deh. Aku ini penggemar berat komik Jepang. Kalo nongkrongin toko buku, pasti disempet-sempetin ngeliat komik-komik baru. Sekarang aja lagi ngikutin serial Babysitter Gin sama Wish You Were Here—bagus banget deh, sumpeeeh!

Selain nama besar pengarang, cerita yang seru, alasan lain aku memutuskan beli komik adalah cara dia menggambar latar. Kalo kamu baca Babysitter Gin pasti setuju deh, Waki Yamato tuh jago banget bikin illustrasi rumah Gin yang bergaya barat. Lekukan-lekukan, arsiran, sampe suasana pemandangan di luar rumah nggak luput dari perhatiannya.

Novel beda sama komik, I know. Tapi prinsip komikus memanjakan mata pembacanya dengan ilustrasi seeting yang cantik bisa kita contek lho saat mulai nulis novel.

Prinsip yang harus kita inget adalah: SETTING ITU BUKAN SEKADAR BACKDROP ATAU WALLPAPER DINDING. Maksudnya, setting itu nggak cukup dengan nama tempat atau nama kota aja. Bilang kalo tokoh kamu lagi di Paris nggak bikin pembaca langsung kebayang suasana Paris.

Pembaca itu kadang-kadang manja, pengen dipuaskan seutuhnya, nggak cuma cerita yang bagus dan mengharu biru, tapi juga ngarepin pengalaman baru setelah baca novel kamu. Tarik ke pengalaman pribadi masing-masing deh, setelah baca Travelers’ Tales langsung berkhayal pengen jadi backpacker dan ngalamin pertualangan seru kayak di novel itu kan?

Saat kamu nentuin tempat tertentu sebagai setting yang perlu kamu pertimbangkan adalah:

1. Seberapa besar pengaruh setting ke dalam cerita?
Buat yang lagi nulis novel bersetting luar negeri, misalnya, coba dites deh. Kalo novelmu yang mengambil lokasi di Perancis itu misalnya dipindahin ke Wonogiri, bagian-bagian mana aja yang berubah? Yang aku maksud bukan cuma nama-nama tempatnya ya, melainkan inti cerita novel kamu. Kalo nggak ada perubahan, hmm, berarti kamu perlu ngawinin setting kamu itu dengan plot yang kamu bikin. Contoh novel Gagas yang kawin dengan plot: No Volvere (Ita Sembiring).

2. Seberapa besar pengaruh setting terhdap tokoh?
Perkawinan lain yang memungkinkan adalah setting dengan tokoh. Khusus yang ini, selain setting tempat, kamu juga perlu merhatiin seberapa besar pengaruh filosofi atau prinsip hidup di setting. Apakah si tokoh punya keberatan tertentu dengan jalan pikiran orang-orang di sekitarnya? Apakah si tokoh malah punya harapan pengen nyatu dengan lingkungannya? Contoh novel Gagas yang tokohnya kawin sama setting: Istoria da Paz (Okke ‘Sepatumerah’).

3. Perkawinan poligami setting-karakter-plot? WOWWW... bagus banget. Tapi biar perkawinan ini langgeng, kamu perlu sedikit bekerja keras, lho! Riset tempatnya, budaya masyarakat setempat, terus pandangan si tokoh terhadap kedua hal itu. Contoh novel Gagas yang ‘poligami’ ini: Travelers’ Tales.

Kata Mas A.S. Laksana, penulis dan guru nulis di Jakarta School, pernah bilang, cara mudah untuk mendeskripsikan setting tempat adalah dengan memanfaatkan kelima indra yang kita punya. Gambarkan apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu cium, lalu apa kesan-kesanmu terhadap tempat itu. Nggak harus dipake semua kok—seperti petunjuk di botol vitamin: minum bila perlu.

Contoh:
Kugotong koperku menaiki tangga sempit, remang-remang, dan berpanel kayu yang melingkari ruang tengah. Bagian tengah semua anak tangga batu itu aus karena sudah berumur dua ratus tahun. Sembari berjuang sendiri menggotong koperku yang berat di belakang para orang tua, wali murid, dan valet yang membawakan koper para gadis lain, aku menghirup dalam-dalam campuran bau lilin lebah dan cairan pembersih lantai yang memenuhi ruangan.

Jendela berlapis kaca patri yang menampilkan lukisan Santa Theresia sedang membuat mukjizat membiaskan matahari temaram ke tangga, meskipun di luar sana panasnya minta ampun dan matahari bersinar terik. Dengan badan terbungkuk-bungkuk menggotong koperku yang berat dan pundak sakit teriris tali tas peralatan anggarku, aku menengadah dan memandangi sosok sang santa yang tenang dan damai itu. Dalam hati aku berharap, seandainya saja beliau mau melakukan mukjizat untukku, misalnya membawakan koper sialan ini ke lantai atas.
(Pulling Princess—Menggaet Pangeran: 19-20)

Cara lain supaya setting nggak berkesan tempelan adalah dengan meleburnya bersama dengan jalan cerita. Masih pake prinsip lima indra juga, tapi deskripsinya disebar-sebarin ke bagian-bagian cerita.

See? Ternyata, nggak susah-susah banget kan bikin setting keren?

Read More ..

Feb 15, 2008

Kok diterbitin sih?!

Begitu banyak jenis buku yang ada di pasaran. Masing-masing jenis pasti punya penggemarnya sendiri-sendiri. Dan bukan ngga mungkin kalo banyak komentar yang masuk untuk buku-buku tersebut.

Gagas punya tips nih buat kalian mengenai “komentar tentang buku.” Kalau kalian membaca buku dan merasa buku itu tidak menarik, jangan buru-buru mencela penulisnya. Kalau buku itu sampai masuk ke pasaran, berarti buku itu memang layak terbit (redaksi pasti sudah memikirkannya matang-matang). Urusan jelek atau tidak, tergantung selera pasar. Gampangnya, kalau menurut kalian buku itu jelek, anggap saja kalian bukan target market (target pembaca) nya.

Contohnya buku pelajaran! Wahhh… pasti kebanyakan dari kita bilang “kalo ngga disuruh beli sama bu guru, kagak mungkin gue beli, dah, buku begituan!” Nah, ini berarti, kamu bukan targetnya. Jadi siapa targetnya? Bisa jadi para guru dan sekolah-sekolah kamu semua.

Gagas berharap dengan membaca tips diatas, kalian bisa berpikir lebih objektif. Daripada salah ngomong tanpa referensi yang baik, mendingan diem dan berpikir “kenapa” bukan? Itu akan membuat pola berpikir kita jadi lebih baik.

Have a Nice Day.

Read More ..

Jan 30, 2008

Panduan Dalam Berteman

Percaya ngga percaya, kadang-kadang kita mudah menjudge orang berdasarkan tampilan luarnya. Ngga jarang kalo kita pernah bermasalah dengan suku tertentu, biasanya kita langsung menganggap semua suku tertentu itu memiliki sifat menyebalkan. Iya ngga?

Ada lagi orang yang menjudge seseorang lewat embel-embel naman sekolahnya, eskulnya dan lain-lain. Kejadia kayak gini bukan cuma dialami sama kalian yang masih bersekolah lho. Ternyata ibu-ibu arisan pun juga suka begitu.

Biar ngga salah menjudge orang, Gagas punya panduannya nih. Melihat watak orang berdasarkan tanggal lahirnya. Ngga ada yang negatif di sini, supaya kita ngga memandang negatif orang lain. Dibaca ya!

Januari
loyal, Patriotik, fun, aktif, dan ambisius

Februari
supel, atraktif, jujur, pintar, dan sangat mencintai kebebasan.

Maret
menyenangkan, atraktif, supel, artistik, dan fun.

April
kuat, menarik, suka travelling, fun, dan sistematis.

Mei
manis, loyal, pintar, humoris, dan menyengangkan.

Juni
berani, supel, talkactive, dinamis, dan fun.

Juli
baik hati, supel, caring, charming, dan pemimpi.

Agustus
atraktif, Jujur, risk-taker, fashionable, dan populer.

September
aktif, dinamis, loving, berani, dan diplomatis.

Oktober
loyal, playful, sosial, mandiri, dan pintar.

November
jujur, harworker, friendly, pemaaf, dan ngga mudah ditebak.

Desember
fearless, jujur, fun, supel, dan menarik.

Read More ..

Kan Pengen Nulis, Yuk!

Kenapa menulis
Sudah seharusnya semua orang bisa menulis. Loh, kok bisa. Iya, semua orang pasti bisa menulis karena :
1. hampir semua pekerjaan di dunia ini butuh komunikasi tertulis,
2. menulis itu menguji pengetahuan kita sendiri. Lewat menulis kamu juga mengembangkan pengetahuan kamu.

3. menulis melatih cara kita berpikir. Tulisan yang bagus mencerminkan cara berpikir yang bagus,
profesi menulis itu menjanjikan. Jadi penulis professional bisa memberikan penghasilan yang asyik. Contohnya, J.K Rowling, Raditya Dika, Moammar Emka, Aditya Mulya, Icha Rahmanti, Ninit Yunita, Christian Simamora, dll. Tanyakan pada mereka, berapa penghasilan yang mereka peroleh dari menjadi penulis. Kamu pasti melongo!

Bukan bakat, bukan bacot
Pernah ada yang bilang kalau kamu berbakat menulis? Kalau pernah, pasti ada alasannya kenapa temanmu itu bilang kamu berbakat. Pasti karena kamu pernah nunjukin hasil tulisan kamu kan? Atau karena dia pernah lihat tulisanmu.

Kamu bisa disebut berbakat menulis kalau kamu menulis. Ini ibarat ramalan bintang yang kita bilang jitu kalau udah kejadian. Kamu nggak bisa bilang kamu berbakat menulis kalau kamu cuma ngobral bacot kanan-kiri tentang ide sebuah buku. Itu nggak bisa menjadi indikasi kalau kamu berbakat menulis.

Kenapa saya bilang begini? Karena redaksi GagasMedia kerap kali menerima surat yang isinya :

Dear redaksi Gagas,

Saya adalah orang sangat suka sekali mebaca dan memiliki bakat menulis. Saya punya banyak ide cerita yang bisa Gagas jadikan novel.
Apakah redaksi ada waktu untuk bertemu? Kita bisa bicarakan ide-ide menarik untuk novel saya. O,ya, saya membutuhkan orang yang bisa menuliskan ide-ide itu menjadi novel. Redaksi bisa melakukannya kan?

Terima kasih,
XXX


Kali lain, saya menerima telepon yang cukup menyenangkan. Setidaknya, membuat saya menahan tawa setelah menerima telepon. Begini ceritanya,

Si penelepon : Hallo, Mba Windy?
Windy : Iya. Ada yang bisa dibantu?
Si penelepon : Begini, Mba. Saya ingin banget jadi penulis. Pengen banget punya
novel.
Windy : Wah, bagus banget.
Si penelepon : Nah, saya tuh punya kisah cinta yang kalau dijadikan novel tuh bisa
bagus banget. …..(lalu dia bercerita tentang kisahnya)…Bisa nggak ya
diterbitkan Gagas?
Windy : Kirimin aja dulu naskahnya ke saya. Nanti kita pelajari.
Si penelepon : Loh, bukannya Mba Windy nanti yang akan menuliskan novel saya itu?

Menurut kalian, apa yang harus dilakukan redaksi menghadapi orang berbakat ini?

Saya adaah salah satu orang yang termasuk dalam golongan tidak percaya bakat. Saya nggak pernah percaya ada bakat. Menulis buat saya bukan masalah bakat. Apalagi cuma banyak bacot. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan berbakat menulis, sementara belum pernah ada satu tulisan pun kamu hasilkan.

Ide yang brilian, tema yang menarik nggak akan membuat kamu dicap berbakat menulis tanpa menuliskannya.

Jadi, menulis itu masalah apa?

Menulis masalah latihan
Suka menulis? Yup, cukup. Alasan itu sudah cukup buat kamu ada di sini dan belajar bareng bagaimana membuat tulisan yang seru dan tentunya bagus. Lupakan bakat. Lupakan kalau kamu punya banyak ide cerita menarik. Ambil kertas dan pena, yuuuk, bareng-bareng kita coba menuliskan ide cerita yang ada di kepalamu!

Kalau saya ditanya apa dasar dari menulis, jawaban saya cuma satu : Latihan. Teori menulis sehebat apa pun nggak akan bisa bikin kamu lebih jago menulis kalo nggak menulis. Yang akan bikin kamu semakin jago menulis cuman satu : Latihan. Menulis itu adalah tindakan!

Bahan dasar menulis :
1. bisa baca dan tulis
2. latihan

Nggak ada langkah standar untuk menulis!
Nggak ada tuh langkah standar atau resep untuk menghasilkan tulisan. Proses menulis bisa dimulai dari mana saja, dan berakhir di mana aja. Kata Yayasn Sopyan, pengajar kelas menulis Gagas, menulis itu pekerjaan non linear, nggak mengenal langkah pertama apa dulu sebelum masuk ke langkah kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kadang, kamu bertemu dengan penulis, yang belum mau memulai menulis kalau dia belum tahu ending novelnya. Jadi, hal pertama yang ia lakukan adalah menentukan ending terlebih dahulu. Satu ketika, kamu bisa bertemu penulis, yang baru memulai menulis kalau outline tulisannya sudah jadi. So, nggak ada hal standar untuk menulis. Kamu bisa memulainya dengan cara yang paling membuat kamu nyaman dan asyik untuk menulis.

Faktor penting dalam menulis adalah diri kita sendiri :
1. seberapa kita menguasai hal-hal yang akan kita tulis,
2. seberapa kita percaya diri bahwa yang kita tulis itu penting dan otentik.

Jenis-jenis kegiatan dalam menulis
Memang nggak ada urutan baku dalam menulis. Namun, aktivitas menulis umumnya terbagi dalam tiga jenis kegiatan.
1. perencanaan. Ini adalah kegiatan menggali berbagai kemungkinan untuk menemukan dan mengorganisasikan ide.
2. Drafting. Di sinilah kita menuangkan ide. Ada 3 jenis draft yang biasa dikenal di kalangan penulis :
a. exploratory draft : memastikan bahwa kita tahu apa yang ingin ditulis; lebih mencerminkan tulisan yang dilihat dari sudut pandang si penulis,
b. working draft : menganalisis, membaca ulang apa yang kita tulisa; tulisan kita harus dilihat dari sisi pembaca. Proses ini bisa berulang-ulang.
c. final draft : memastikan kelengkapan bukti dan argumentasi (non fiksi) detail kejadian (fiksi), menilik kata yang dipilih dan struktur kalimat, dsb.
3. Perbaikan (revisi). Kegiatan ini berlangsung sejak dan hanya mulai setelah sebuah draft selesai dikerjakan.

Pengendali proses menulis
Karena proses menulis itu nggak mengenal urutan atau langkah, seorang penulis butuh alat untuk mengendalikan kegiatannya. Tanpa alat pengendali itu, tulisan yang dihasilkan bisa nggak karuan.

Menurut Frank O’Hare dan Dean Memering, ada lima komponen yang mengendalikan dan membuat proses menulis menjadi lebih beraturan :
1. Tujuan (Purpose). Tentukanlah tujuan tulisn kita: untuk menghibur? Kasih inspirasi? Memberikan sudut pandang baru tentang sebuah topik? Memandu?
2. Pembaca (Audience). Tentukanlah pembaca kita. Nggak ada buku untuk semua orang. Sebuah buku pasti cocok untuk sekelompok orang tertentu saja.
3. Kode (Code). Tentukan cara kita menyampaikan ide kita. Di sinilah penulis akan menentukan gaya bahasa, strategi komunikasi, maupun pilihan kata yang akan dipakainya.
4. Pengalaman (Experience). Tentukan pengalaman jenis apa yang akan kita bagi kepada pembaca. Tanpa pengalaman nggak ada yang bisa dibaca oleh pembaca.
5. Diri penulis (Self). Tulisan yang bagus juga harus memunculkan diri penulis. Nah, diri macam apa yang akan kita munculkan di depan pembaca. Apakah kita akan hadir sebagai orang cerdas yang ngocol? Apakah kita akan hadir sebagai badur? Apakah kita kan hadir Sebagai orang yang cool and smart?

Kelima komponen tersebut bisa kamu jadikan pegangan untuk mengendalikan proses menulis.

Tentukan topik tulisan
Orang yang merasa punya banyak topik untuk ditulis dan orang yang mengaku sama sekali nggak punya topik untuk ditulis sebenarnya menghadapi masalah yang sama: topik apa yang sebaiknya ditulis?

Kita sering banget kebingungan menentukan topik. Nggak masalah. Itu wajar banget. Tapi, sebaiknya kamu harus bisa segera merumuskan. Karena kalau kamu biarkan, kamu nggak bakal bisa memulai menulis.

Ada beberapa patokan yang bisa digunakan untuk membantumu menentukan topik apa yang akan ditulis :
1. kompetensi. Tulislah hal-hal yang kita kuasai saja,
2. pertimbangkan pembaca. Jangan egois. Kita menulis agar tulisan kita dibaca oleh orang lain. Jadi, pertimbangkanlah untuk memilih topik yang cocok sama kebutuhan dan pengalaman pembaca.
3. fokus dan spesifik. Biasakanlah untuk memilih topik yang spesifik. Topik yang isinya berisi gagasan besar saja nggak akan menarik. Gagasan-gagasan besar cenderung mengarah kepada menyatakan (telling), bukan memperlihatkan (showing). Fokus dan spesifiklah! Sebagai alat Bantu untuk menguji, gunakan pertanyaan, “So what?”
4. Pinjam alat bantu jurnalis. Para jurnalis punya kriteria untuk menentukan apakah sebuah kejadian layak diberitakan. Nah, criteria itu bisa kita pinjam juga untuk menilai sebuah topik. Beberapa kriteria layak berita itu adalah :
1. yang terjadi sekarang,
2. yang berdampak,
3. yang terkenal,
4. yang dekat,
5. konflik,
6. yang aneh,
7. yang aktual.

Melawan kekosongan
Menulis itu adalah proses melawan kekosongan. Jadi, ketika kamu berkilah nggak punya ide atau mampet, saya curiga, itu cuman alasan kamu aja untuk menutupi kenyataan bahwa kamu nggak cukup mampu dan terampil dalam menulis.

Idea can hit you in everywhere. All what you have to do is just picking your paper and pen! Let’s start to write since now on.

Sumber bacaan : materi pelatihan menulis GagasMedia, Creative Writing karya A.S Laksana, The Complete Guide to Editing Your Fiction karya Michael Seidman, Berani Berekspresi karya Susan Shaughnessy

By: Windy

Read More ..

Jan 26, 2008

Cara mencuri (hati) tanpa dosa

Mencari penerbit yang akan menertbitkan naskah yang kita tulis itu ibarat cari pacar.

Tip dan Trik
1. Tentukan si target
Tentukan, akan ke penerbit mana kalian mengirimkan karya.
2. Gali informasi tentang si dia (penerbit) sebanyak-banyaknya.
Kalau kita pengen PDKT sama seseorang, kita pasti cari tahu tentang dia sebanyak-
banyaknya kan? Nah, hukum ini juga berlaku di dunia penerbitan. Kalau seorang (calon)
penulis ingin menemukan penerbit yang tepat untuk mempublikasikan karyanya, maka ia
harus mengirimkan karyanya ke penerbit yang tepat pula. Misalnya: jangan mengirimkan
naskah Beternak Kambing Jantan ke GagasMedia!GagasMedia kan bukan penerbit
buku pertanian dan peternakan. Mengirimkan naskah kalian ke penerbit yang tepat, udah
memudahkan seperempat naskah kalian.
3. Lancarkan aksi PDKT
setelah mendapatkan info, sekarang saatnya rancang jurus jitu buat PDKT dan menarik
perhatiannya:
1. siapkan naskah sebaik mungkin. Ketik rapi, dan hindarkan menulis tangan. Jangan
mengirimkan naskah sepotong-sepotong atau tidak selesai, penuhi spesifikasi
naskah yang mereka minta. Dengan memenuhi syarat pengiriman naskah, paling
enggak naskah kalian udah bisa lolos ke tahap selanjutnya,
2. kemas dengan menarik. Jilid dengan rapi agar si editor mudah membacanya. Kalau
perlu beri sampul yang menarik sehingga naskahmu tampak menonjol diantara
ratusan naskah yang masuk,
3. sertakan sinopsis karya kalian. Kalau perlu beritahu mereka tentang keunggulan
naskah kalian sehingga layak diterbitkan. Ngga ada salahnya juga kamu memberikan
presentasi cara mempromosikan buku kalian kelak.
4. jangan lupa, sertakan data diri yang lengkap agar bisa dihubungi kapan pun oleh
penerbit. Kalau perlu sertakan juga alamat email, rumah dan telepon alternatif.
Ingat: ngga perlu mencantumkan nomor rekening bank kalian!
5. JUDUL itu penting banget. Editor suka ilfeel kalau ngeliat naskah ngga ada judulnya,
6. kalau perlu, kamu presentasikan langsung naskahmu ke penerbitnya. Datanglah ke
kantor redaksi, minta bertemu dengan editornya. Ingat jangan terkesan memaksa.
Bagaimanapun kerjaan sehari-hari editor cukup banyak. Menghadapi penulis yang
terlalu maksa dan terlalu pede kadang bikin editor ilfeel. Kunjungi editor pada waktu
yang tepat.
4. Tunggu jawabannya
Gebetanmu ngga bisa langsung ngasih jawaban saat itu juga. So, you should give him/ her
a time. Setelah kamu memasukan naskah, tanyakan kapan kamu bisa mendapatkan
jawabannya. Tunggulah jawaban dari penerbit dengan sabar. Jangan terlalu sering
merongrong. Kalau kalian terlalu ngebet sama jawaban, gebetannya bisa kabur bukan?
Tagihlah jawabannya sesuai waktu yang dijanjikan.
5. Jangan patah semangat kalau ditolak
Ditolak emang ngga enak rasanya. Tapi, kalian ngga boleh patah semangat. Tanyakan
pada penerbit alasan naskah kalian ditolak. Itu hak kita kok untuk mengetahui kenapa
naskah kita ditolak. Minta mereka menjelaskan. Kalau revisi dimungkinkan, cobalah
lakukan. Terus belajar! Biasanya, editor jadi hapal sama (calon) penulis yang terus-
terusan mengirimkan naskah meski ditolak. Dan ini membuat editor mengamati
perkembangan menulis kalian lho!


Selamat mencoba

Read More ..