Sore itu gagas membuka e-mail dan mendapati sebuah pesan masuk dari Soffie Rosdiana.
Penulis naskah di sebuah biro iklan itu, menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Gagas, seputar buku Wuli Si Pemarah dan Rambut Messy!
Kedua buku tersebut masuk ke dalam genre la petite, milik GagasMedia. Sesuai dengan tema buku dan genre-nya, buku ini memang ditujukan bagi anak-anak.
Kira-kira, bagaimana menulis buku untuk anak-anak, ya?
Women behind the Book

Sebagai seorang penulis naskah iklan yang memiliki hobi menulis puisi, menyampaikan sebuah ide ke dalam bentuk tulisan bukanlah hal yang sulit. Begitu juga bagi Dina Riyanti, ilustrator kedua buku anak tersebut. Dina yang juga bekerja di bidang iklan, tidak memiliki kendala untuk mentransfer seluruh ide Soffie ke dalam sebuah ilustrasi yang menarik.
Namun, bukan berarti ketika menyelesaikan buku Wuli Si Pemarah dan Rambut Messy! Mereka tidak memiliki kendala sama sekali. Kendalanya justru datang dari target pembaca buku-buku tersebut: anak-anak.
Mungkin kelihatannya sepele. Menulis untuk anak tidak perlu menggunakan gaya bahasa yang puitis. Tidak perlu memilih diksi yang manis. Atau bahkan tidak perlu sebuah deskripsi yang indah. Menulis untuk anak itu susah-susah gampang. Tantangannya justru datang dari sebuah pertanyaan “bagaimana agar tulisan mudah dipahami oleh anak-anak?”
Seorang anak belum mampu untuk memahami pesan yang rumit, sehingga pesan harus dibuat dengan sederhana dan menarik. Sesederhana dan semenarik dunia anak. “Dunia anak-anak adalah dunia yang menyenangkan. Apapun yang dilihat dari sudut pandang anak-anak bagiku selalu menarik,” kata Soffie kepada Gagas.
Ya, dunia anak memang menarik dan menyenangkan. Namun bagaimana menerjemahkan sebuah cerita yang memiliki kandungan pesan moral, ke dalam dunia yang menyenangkan itu?
Soffie memulai semua ceritanya dari pengalaman pribadi atau masalah-masalah yang sering dilihat di lingkungannya. “Rambut Messy! itu sejujurnya masalah aku banget, karena aku merasa punya rambut ‘paling susah diatur’ sedunia.” Pengalaman-pengalaman pribadi itu tentunya lebih mudah untuk dituliskan. Apalagi jika mengingat, setiap anak pasti memiliki rasa tidak percaya diri dengan kekurangannya masing-masing.
“Nah, pengalamanku ini yang mau aku bagi dengan anak-anak, supaya mereka lebih santai memandang persoalan yang sebenarnya not the end of their world.” Dan inilah pesan moral yang coba disampaikan Soffie kepada semua anak-anak yang membaca bukunya.
Meskipun kisah Rambut Messy! dan Wuli Si Pemarah berasal dari pengalaman pribadi, namun perlu waktu beberapa bulan bagi Soffie dan Dina untuk mengerjakan buku-buku tersebut. Maklum… mereka harus membagi waktu antara pekerjaan dan menulis.
Sebenarnya cerita Rambut Messy! sudah ditulis oleh Soffie sejak empat tahun yang lalu. Soffie menyelesaikan cerita tersebut pagi-pagi sekali di kantornya. Kemudian ia menunjukan cerita tersebut kepada Dina—yang memang partner kerjanya. Melalui brainstorming singkat, akhirnya Dina membuat ilustrasi untuk Rambut Messy!
Soffie dan Dina memang memiliki ketertarikan pada buku cerita anak-anak. Bagi Soffie, Dina menjadi nyawa untuk semua tulisannya. “Dina bisa menerjemahkan apa yang tidak tertuang dalam tulisan ke bentuk visual,” Soffie bercerita.
Menggambar Dengan Manual
“Dina menggambarnya benar-benar manual!” Soffie berceloteh tentang proses menggambar yang dilakukan oleh rekannya. Soffie begitu kagum dengan kemampuan Dina. Dan ia berani untuk mengacungkan jempol bagi rekannya itu.
“Jadi dia bikin sket hitam-putih. Setelah oke, baru di-outline dan diwarnai dengan cat air. Kemudian semua gambar itu di-scan untuk layout.” Proses manual inilah yang membuat Soffie kembali menekankan bahwa Dina adalah nyawa bagi setiap ceritanya. Dan dia menambahkan bahwa proses kreatif itu menjadi kelebihan buku-buku mereka berdua.
Proses menggambar dan mewarnai ini memakan waktu yang cukup lama. “maklum deh, Dina juga kuli seperti aku. Jadi hanya punya waktu kalo weekend,” sebuah simbol senyum menghiasi kalimat yang ditulis Soffie melalui e-mail itu.Ketika proses menggambar dan mewarnai selesai, mereka-pun melakukan tes pasar kecil. Gambar-gambar yang sudah jadi tersebut, diberikan kepada anak-anak untuk dinilai. Selain menilai gambarnya, anak-anak juga dapat menilai jalan cerita yang disajikan di situ. Jadi, ketika adahal yang tidak dimengerti oleh anak-anak, detail cerita ataupun gambarnya masih dapat diubah.
Begitulah proses kreatif yang dilakukan dua wanita yang sibuk bekerja ini.
Satu hal lagi yang ingin disampaikan melalui Messy dan Wuli:
Di dalam cerita Rambut Messy! aku ingin semua anak-anak bisa menerima kekurangan mereka dan menghadapinya dengan senyuman. Sementara di Wuli Si Pemarah, aku ingin anak-anak tahu bahwa kemarahan hanyalah salah satu bentuk ekspresi yang tidak apa-apa sesekali ditunjukkan, asal tahu kapan waktunya harus benar-benar marah dan harus bisa mengendalikannya. Pada dasarnya, di kedua buku ini aku ingin anak-anak Indonesia menemukan solusi dari masalahnya sendiri dan bisa menghadapi setiap masalah dengan penuh keceriaan, tanpa harus merasa digurui. Menurut aku buku anak-anak itu tetap harus menghibur, walaupun sarat akan pesan. Sehingga mereka tidak merasa sedang diceramahi oleh orang tua atau guru mereka.
(Soffie Rosdiana)





