Showing posts with label launching. Show all posts
Showing posts with label launching. Show all posts

Aug 23, 2009

Gita Bisa Kita Bisa

Sore itu Main Hall Depok Town Square luar biasa penuh. Banyak orang di sekitar Main Hall yang sudah berdiri sejak pukul empat sore. Mereka menanti seorang gadis yang tenar karena prestasinya di dunia tarik suara.

Tak berapa lama, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Gita Gutawa, remaja dengan segudang prestasi naik ke atas panggung yang terletak di Main Hall Depok Town Square. Bersama dengan Alit Palupi (GagasMedia), Andanari Yogaswari (penulis), dan Toto Widjojo (Sony Music), Gita duduk di atas panggung.

Hari itu, rabu, 19 Agutus 2009, GagasMedia mengadakan launching buku Kotak Musik Gita. Buku ini memiliki konsep seperti sebuah kaset yang memiliki dua sisi. Sisi pertama bercerita tentang kegiatan sehari-hari seorang Aluna Sagita Gutawa (nama lengkap Gita), sedangkan sisi berikutnya menceritakan prestasi Gita Gutawa di dunia musik Memang sengaja dibuat demikian agar sesuai dengan karir Gita sebagai seorang pemusik.

Di luar kegiatan bermusik, ternyata Gita adalah seorang siswa yang berprestasi, lho. Ini dibuktikan oleh kehadiran kepala sekolah Gita di acara launching tersebut. Beliau mengatakan bahwa Gita berhasil menjadi lulusan terbaik di sekolahnya. Wow, Gita memang hebat, ya. Sudah berbakat, berprestasi pula di bidang akademis.

Sssttt, kalian juga bisa mendapatkan banyak prestasi seperti Gita, lho. Kalian tahu tidak, dulunya Gita itu takut terhadap air. Namun, setelah dimotivasi dan diberi arahan oleh kedua orangtuanya, Gita malah menjadi juara renang. Melalui bukunya, Gita bermaksud untuk berbagi motivasi agar para pembaca bisa mencapai impiannya. "Buku ini seperti diary. Hanya saja yang menulisnya adalah mbak Andanari Yogaswari," ujar Gita kepada audiens yang ada di sana.

Untuk dapat mendalami kegiatan Gita, Andanari mencoba mengikuti kegiatan Gita. "Biasanya aku sering datang ke lokasi syuting atau email-email-an saat membahas naskah ini," katanya. Untungnya Gita mudah diajak kerjasama sehingga proses pembuatan buku ini berjalan dengan kendala yang minim. "Gita juga ikutan mengedit naskahnya, lho," ALit menambahkan dan yang diberi komentar hanya tersenyum-senyum saja.


Sama halnya dengan Alit dan Andanari, pihak Sony Music yang diwakili oleh Toto Widjojo juga mengatakan bahwa buku ini merupakan media untuk Gita membagi pengalamannya. "Harapannya adalah Gita bisa, kalian juga bisa," lanjut Toto Widjojo.

Semoga dengan adanya buku Kotak Musik Gita, kita semua bisa termotivasi dan memiliki segudang prestasi seperti Gita Gutawa.

Sekian laporan dari kandangagas, semoga bermanfaat :)

Read More ..

Jun 6, 2009

Launching buku Bara Pattiradjawane "Catatan dari Balik Dapur Si Tukang Masak"

Ternyata, selain jago masak, Bara Pattiradjawane juga jago nulis. Nah, dua hal ini bakal dikupas habis di acara Launching buku Bara yang bertema “Catatan dari Balik Dapur Si Tukang Masak”.

Datang saja ke panggung utama Pesta Buku Jakarta 2009, Istora Senayan Jakarta,
tanggal 28 Juni 2009, pukul 16.00-18.00 WIB.

Ada doorprize-nya juga lhoo.

Eits, sebelum datang ke acara ini, kamu juga bisa mengirimkan pendapat kamu tentang buku Masak Seru Bareng Si Tukang Masak, dan pendapat kamu tentang Bara Pattiradjawane.

Kirim lewat e-mail, ke: redaksi@gagasmedia.net, subject: KUIS BARA, jangan lupa tuliskan nomor kontakmu.

5 pengirim pertama dan 5 komentar terbaik akan mendapatkan paket buku dari GagasMedia.

Pendapatmu diterima redaksi paling lambat tanggal 20 Juni 2009.

Pemenang akan diumumkan pada saat launching dan hadiah akan diserahkan langsung oleh Bara Pattiradjawane. Jangan lupa membawa KTP atau kartu identitas lainnya.

Informasi lebih lanjut hubungi: Ninish (redaksi GagasMedia) di 021-78883030 ext.203.

Buruaan kiiriiim! Don't miss it!

Read More ..

Jun 5, 2009

The Power of Orange Sneaker

Sneaker berwarna oranye itu segera tertangkap mata ketika si pemilikinya memasuki area Alun-alun Indonesia, Grand Indonesia, hari Jumat (29/5) kemarin. Kaus dan bawahan gelap yang dipakai semakin membuat sneaker oranye yang dikenakannya menjadi lebih menonjol.

Wimar Witolear, pria berkacamata dan berambut kribo yang terkenal dengan omongan ringan namun pedas ini, melangkah masuk. Semua yang hadir sontak bertepuk tangan. Senyum lebar pun mengembang di bibirnya. Ramah ia menyapa orang di sekelilingnya.

Lama tak bersua dengan Wimar Witoelar yang akrab disapa WW ini, menggoreskan sebuah rasa rindu di lubuk hati. Kerinduan itu terasa di Alun-alun Indonesia. Media, sahabat, dan para penggemarnya antusias menyambut acara Let’s Celebrate Nothingness yang sengaja digelar untuk menandai launching buku terbaru WW, ‘More About Nothing’ terbitan GagasMedia.

Melissa Karim, yang siang itu berperan sebagai MC acara, menyambut WW dengan ceria. Ia merengkuh lengan WW. Lalu, berdua, mereka bergandengan tangan, memasuki kawasan Alun-Alun Indonesia yang sudah dihiasi oleh banner,backdrop, dan sebuah panggung mungil.
oOo


Oranye memang mendominasi di acara hari itu. Bukan lantaran cover bukunya berwarna oranye kemudian warna ini dipilih sebagai warna yang mendominasi perangkat acara. Namun, memang inilah semangat yang hendak dibagi. Warna oranye identik dengan sesuatu yang hangat dan dinamis. Sesuatu yang penuh semangat.

Dan itu yang gagas temukan dalam diri WW, juga dalam More About Nothing, buku kedua WW di GagasMedia.

‘Kita tidak akan bicara politik di sini, walaupun persoalan capres dan cawapres sedang ramai dibahas,’ kata WW. Terus, kita akan bicara apa?

We talk about nothing,’ lanjutnya. Dan dari mulut WW mengalirlah cerita-cerita yang mungkin dianggap oleh kita tak penting. Namun, sebagai pencerita ulung, WW berhasil membawa audiens larut dalam cerita-ceritanya yang terkadangnya juga diselipi celetukan. ‘Ini bulan filasafat berat. Bukan. Ini seperti mencari sesuatu di balik hal tidak penting yang terjadi di sekitar kita. Namun, setelah kita pikir ternyata ada sesuatu di baliknya.’

Hal yang tidak penting bukan berarti tidak memberikan sesuatu, kata WW. ‘Ada pembaca yang baru tahu kalau lagu ‘Smile’ itu karyanya Charlie Chaplin karena membaca buku terbaru saya,’ sambung pria yang pernah menjabat sebagai juru bicara kepresidenan di era Gus Dur.

Salah seorang wartawan yang hadir rupanya tertarik dengan persoalan nothingness yang dibicarakan WW. ‘Apakah karena yang menuliskannya WW, makanya hal nothing ini bisa diterbitkan?’ tanyanya.

WW tersenyum lalu dengan tangkas menjawab, ‘Nothing akan tetap jadi nothing kalau kita tidak melakukan sesuatu.’ Bagi pembawa acara Perspektif ini, nothing is everything. ‘When you are nothing, you can receive everything.’

Memang, sebuah keberadaan hadir diawali dari ketiadaan. Kalau bukan kita yang memaknai kekosongan, maka melompong lah yang memang akan hadir. Padahal ide ada di mana-mana. Roti jatuh dari langit, tinggal dibutuhkan kesediaan kita untuk membuka dan menadahkan tangan. Cerita ada di mana-mana, tinggal kita buka mata, pasang telinga.

Apa yang kita anggap tak penting ternyata memiliki peranan. Ini tentu kalau kita mau menyediakan ruang untuk menghargainya. Seperti sebuah sepatu yang melulu diinjak. Sepasang benda kecil yang selalu dihadapkan langsung dengan tanah. Tempatnya di bawah, menjadi alas. Kadang, kalau kita tak hati-hati, ia bisa menginjak kotoran.

Namun, sepatu yang tempatnya di bawah ini tanpa kita sadari memiliki peranan untuk membuat kita melangkah nyaman. WW hari itu memilih menggunakan sepatu sneaker oranye kesayangannya. Ia tahu, benda kecil itu akan membuat dia nyaman, dan menyempurnakan keseluruhan peformanya hari itu. Mungkin itu yang menyebabkan langkah WW begitu enteng dan mantap. Seakan ia melangkah tanpa sebuah beban sedikit pun.
oOo

Sehabis mengikuti acara launching More About Nothing, saya jadi berpikir tentang hal-hal kecil dalam hidup saya. Termasuk soal memilih warna sepatu yang akan saya pakai supaya bisa melangkah dengan riang.

Kalau kamu, warna sepatu apa yang akan kamu pakai hari ini, Kawan?


*) Lihat juga liputan lengkap tentang acara ‘Let’s Celebrate Nothingness

Read More ..