Jul 2, 2009

Memasak dengan Hati & Cinta bersama Bara di PBJ 09

“Selamat sore tante-tante yang ada di Pesta Buku Jakarta 2009.” Itulah salam pembuka dari Jill yang memandu acara demo masak dan launching buku terbaru Bara Pattiradjawane di Panggung Utama Pesta Buku Jakarta 2009 (Minggu, 28/06).

Suara Jill yang penuh semangat dan canda tawa membuat pengunjung acara ini—yang kebanyakan terdiri dari kaum perempuan—tidak sabar untuk menantikan kehadiran si tukang masak, Bara. Setelah sedikit bertanya-tanya, Jill mengajak para pengunjung untuk berteriak memanggil nama Bara. Tidak lama berselang, Bara akhirnya hadir di panggung diiringi dengan riuh ramai tepuk tangan dari penggemarnya.

Obrolan santai pun mengalir di sore yang cerah itu. Pertanyaan seputar profesinya sebagai tukang masak dan penulis pun tak luput dari rasa ingin tahu Jill sebagai pembawa acara.

“Kebetulan, keluarga saya—baik ayah atau pun ibu—adalah keluarga wartawan dan penulis. Jadi semua itu sudah berada di dalam darah saya,” kata Bara saat ditanya dari mana ia mendapatkan bakat menulisnya.

Bagi pria berbadan tinggi ini, memasak dan menulis sama-sama menyenangkan. Yang membedakan keduanya hanya campuran yang diolah. Kalau memasak mencampur bumbu-bumbu, sedangkan menulis mencampur kata-kata.

Pada kesempatan ini, pihak-pihak yang terkait dengan kehadiran buku kedua Bara juga turut hadir dan memberikan komentarnya terhadap sosok Bara.

Komentar pertama datang dari Vina—Brand Manager Tefal, peralatan masak yang bekerja sama dengan Bara. Menurutnya, cara memasak Bara yang simpel dan praktis sangat sesuai dengan produk Tefal yang juga praktis. Alasan itulah yang membuat Vina melakukan kerja sama dengan Bara.

Komentar kedua lahir dari mulut Rara—Pemimpin Redaksi (Pemred) Area Magz. “Saya kaget saat melihat hasil tulisan Bara,” ungkapnya. “Selain penuh pengalaman, ternyata hasil tulisan tukang masak yang satu ini tidak banyak yang diedit. Bahkan tidak ada yang diedit,” tambahnya.

Sedangkan komentar ketiga datang dari Windy Ariestanty—Pemred GagasMedia. Menurut Windy, Bara yang memasak dengan cinta membuat kegiatan masak menjadi ringan dan tidak ribet. Apa pun bisa dibuat dengan mudah. “Kita ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari buku masak lainnya. Buku ini sangat cocok bagi siapa pun—khususnya anak remaja—yang tidak bisa atau mau mencoba memasak.”

Ya, benar apa yang dikatakan Windy. Bara pun mengakui, setiap kali ia memasak, ia memasak dengan menggunakan hati dan cinta sebagai bumbu utamanya. Hal itulah yang membuat kegiatan memasak menjadi lebih menyenangkan.

Setelah puas bercengkrama, Bara akhirnya mengajak dua orang pengunjung untuk memasak bersama dirinya. Pengunjung pertama yang beruntung adalah Ribka, seorang ibu yang tengah hamil. Meski jarang sekali memasak, Ribka merasa tertantang untuk membuat oseng buncis dihadapan puluhan pengunjung.

Orang kedua yang beruntung masak bareng Bara adalah Moammar Emka—penulis Jakarta Undercover. Pada kesempatan ini, Emka diminta untuk memasak pisang cokelat.

Hasilnya, semua pengunjung berujar, “enak”.

Seusai demo masak, Bara membagi-bagikan goodie bag dari GagasMedia kepada enam orang pemenang yang telah mengirimkan pendapatnya tentang Bara melalui email Redaksi GagasMedia. Keenam orang itu adalah Rahmi Haimi, Endah wintarsih, Herlinda Haida, Ayudia Sundari, Ana, dan Siti Jaozah. Sayangnya, hanya tiga orang pemenang yang bisa menerima hadiah secara langsung.

Acara yang berlangsung selama 2 jam ini ditutup dengan penyerahan buku secara simbolis dari Windy Ariestanty kepada Bara Pattiradjawane. Hal ini menandakan, buku kedua Bara yang berjudul Catatan dari Balik Dapur Si Tukang Masak sudah bisa didapatkan di toko-toko buku.
***


Liputan oleh Deta Oktaria

3 comments:

  1. memasak dengan hati dan dengan cinta.
    Seratus persen aku percaya dan yakin pasti hasilnya bikin maknyos ..lezat.

    ReplyDelete
  2. @eric: kalau hatinya nggak usah beli. kamu punya kok di dalam diri kamu. kalau bukunya baru beli di toko buku. ;) di semua gramedia ada. beli ya...

    ReplyDelete