May 29, 2008

Cerpen: Konser Rock Si Trio

Sabtu, 7 Februari 2008, dua minggu menjelang Konser Rock yang menurut pamflet akan diadakan pada tanggal 21 Februari tahun ini, yang bertempat di kafe Urocks.

Adalah Joni, manusia yang pertama kali menemukan pamflet itu (dibandingkan kedua orang temannya) yang pada saat itu juga, detik itu juga langsung hengkang ke rumah Deni (ia sengaja tidak menghubungi melalui telepon. Menurutnya, lebih afdol jika Iangsung face to face). Padahal ia seharusnya membeli tepung untuk membuat kue pesanan ibunya, yang memiliki kedai catering segala macam kue. Mulai dan kue kering, kue basah, tapi nggak sampai ke kuetek!!

Setelah setengah jam naik metromini... “Walah. Akhirnya daku sampai juga di rumah Deni.” Joni berucap sembari mengusap keringat di dahinya (bayar metromininya pake duit buat beli tepung. Joni sadar betul kalau bakal dipermak jadi kue oleh ibunya sesampainya di rumah nanti).
Asallamualaikum asalamualaikum asalla...,” belum selesai Joni mengucapkan salam ketiga pintu rumah telah dibukakan.

“Heh, tumben siang bolong begini mau datang. Biasanya, tidur kaya kalong giginya ompong di dalam tong, kantongnya bolong... ada masalah apaan??” Deni menggoda Joni yang lagi lecek-leceknya.

“Begini kawanku, tadi sewaktu daku lagi jalan....”

“Hei... hei... hei, tunggu dulu gue juga mau denger nih,” suara Oki berteriak dan dalam rumah Deni.

“Hai dua orang kawan baikku, rupanya sedang berkumpul tanpa mengajakku ikut serta....” Joni kesel.

“Heh Jon, lo mau cerita apa mau pidato kelurahan??” Deni Iangsung menimpali dengan muka sebelnya.

“Oke-oke singkat saja. Tadi daku di jalan dekat rumah menemukan ini pamflet. Daku baca, daku teliti, dan daku pun punya tau. Pamflet ini berisi tentang undangan pendaftaran konser musik rock... bla... bla... bla... bla... 20 band pertama yang mendaftar langsung, akan diikutsertakan tanpa ikut audisi .“
Setelah mendengar beberapa penjelasan dari Joni, mereka bertiga akhirnya sepakat untuk mendaftarkan diri ke konser tanpa audisi tersebut, apapun resikonya nanti (di dalam benak mereka resikonya paling-paling jadi terkenal, padahal resiko yang paling memungkinkan adalah dipaksa turun dari panggung plus lemparan tisu-tisu bekas).

Mereka lalu pulang kerumah masing-masing....
”JOOONIIIIIIIIIIIIIIII!!! KAMU IBU SURUH BELI TEPUNG MALAH KELAYAPAN!!! BOSEN IBU DENGERNYA!!! SINI KAMU, BIAR IBU PERMAK JADI KUE CUCUR!!!"

Keesokan harinya setelah si Joni dipermak jadi kue cucur, mereka langsung menyewa rental studio murah di sekitar rumah Deni (yeah, walaupun dengan efek yang terkadang mati-idup dan mikrofon yang sedikit nyetrum, mereka tetap semangat).

Posisi ditetapkan dengan pertimbangan yang matang....

Bahkan sangat matang....

Joni yang punya gitar dan biasa tereak-tereak, lantaran sering dipermak ibunya jadi kue, sudah sepantasnya mendapat posisi gitar plus vokal. Deni yang punya pengalaman pernah mimpi buruk jadi bencong bass betot, ngga salah lagi dianugerahi kesempatan pegang posisi bass. Sedangkan Oki yang punya trauma dengan alat-alat musik bersenar, lantaran dulu pernah kejepret senar gitar Joni yang putus, tanpa musyawarah, dengan kesadaran sendiri, memilih drum buat pegangannya. Karena itu acara musik rock, mereka berlatih dengan keras seputar musik-musik rock, mulai dan skill picking, typping, sampe kunci-kunci miring. Ngga tanggung-tanggung dalam sehari bisa nyewa studio sampe dua kali (kan studio murah).

Seminggu telah lewat, seiring kabar burung bahwa acara itu akan dihadiri oleh si empunya label rekaman khusus musik rock mas Log Zhelebour, dan musisi-musisi cadas seperti Azis MS cs, sampe Akhmad Albar cs.
’JReeNG.. JreeNG.. GLUDDAK... GIudDUK, JReeNG.. JreeNG. .GLUDDAK... GIudDUK..’

“Mas udah abis waktunya mas. Udah satu jam Iebih sepuluh menit nih. Jangan pura-pura ngga denger deh. Dari tadi saya udah teriak-teriak pake TOA juga,” suara penjaga rental studio dengan nada sebelnya terdengar jelas di speaker.

“Lanjut aja terus” Deni memberi kode kepada kedua temannya.

“MMMAAAAAAAAAASSSSSS UDDAAHH AABBBISSSS NEEEEEGHHH!!!!“ si penjaga rental studio teriak dengan mulut udah penuh busa, sembari kejang-kejang hampir ayan.

“Eh apa? Oh udah selesai ya? Maaf kita bertiga ngga denger suara mas. Speaker yang buat manggil rusak kali tuh” Deni ngebohong demi keselamatan nyawanya dan kedua temannya itu.

“Ah masa sih? speaker saya baru kok... ya udah karena kesalahan pihak studio kalian tetap bayar satu jam saja."
“Ya emang udah seharusnya begitu donk mas, nih duitnya, makasih ya mas..” Deni lagi-lagi dengan santai ngeboong, Joni dan Oki cuma kepingin cepet-cepet kabur, sebelum ketauan boong soal speaker.
***

Tiga hari menjelang konser, si Trio udah yakin bakalan bikin seisi kafe jingkrak-jingkrak dengan lagu andalan yang dibawain, yaitu lagu dari band anyar Metallica.

Dua hari dilalui dengan pasti, yup itu berarti sehari menjelang konsernya dimulai, di mana undangan asli untuk para band pengisi acara telah disebarkan, termasuk ke Trio cs.

Lantaran alamat yang ditulis di formulir adalah alamat rumah Deni, jadi si undangan maunya mampir kerumah si Deni.

Di dalam undangan tersebut dijelaskan dengan detail apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para pengisi acara, mulai dilarang keras pake drugs, nenggak alkohol, bawa senjata apapun bentuknya, sampe larangan bawa binatang pehiharaan. Hal tersebut jelas-jelas bikin Oki nangis darah, gara-gara ayam kesayangannya, si Jago nggak bisa ikut nonton dia manggung!

“Pokoknya kalo sampe si Jago nggak ikut, gue bakalan ngundurin diri!“ teriak Oki sambil pasang tampang melas....
Tanpa pikir panjang si Deni dibantu Joni, langsung patungan beli film foto buat mengabdikan wujud tuh ayam yang udah kena gejala flu burung, ke dalam foto yang dicetak a la kilat hari itu juga. Maksudnya biar si ayam tetap dalam jangkauan pandangan Oki. Waktu manggung nanti, tuh foto ayam yang lagi nyengir-nyengir kaya kuda rencananya bakal ditempel di belakang sound.

Akhirnya, sabtu tanggal 21 februari 2008, hari di mana acara konser rock di mulai pun tiba.

Dengan hati yang mantap dan jiwa rock ‘n roll yang mengalir kental, ngga ketinggalan kaos oblong dan celana jeans yang sobek-sobek belel pada bagian lutut a la Metallica, Trio cs berangkat ke TKP.

Trio cs mendapat urutan mentas terakhir dan sepuluh band yang hadir termasuk musisi-musisi cadas yang di selipin di tengah-tengah acara.

Tepat pukul 19.00, acara dibuka dengan sambutan MC yang tak lain adalah dua orang pegawai kafe urocks itu sendiri.

Band pertama yang naik panggung, beranggotakan empat orang berambut gondrong, penuh tattoo, dan piercing yang bawain lagu Guns ‘N Roses, berhasil bikin penonton larut dalam lantunan melodi-melodi yang sudah tak asing lagi.

Azis MS cs, dan Akhmad Albar cs ngacung-ngacungin jempolnya (bukan jempol kaki pastinya), yang lain tepuk tangan. Mas Log Zhelebour yang duduk di pojokan, cuma manggut-manggut dengan senyuman kecil di wajahnya, sembari nyatet-nyatet di kertas tentang pendapatnya mengenai si gondrong band.

Acara berjalan terus sampai akhirnya tiba giliran Trio cs tampil. Joni, Deni, dan Oki ngambil posisi masing-masing (termasuk juga foto si ayam). Hentakan drum a la nge-roll oleh Oki jadi isyarat untuk Joni dan Deni, buat masukin nada gitar dan bassnya.

Jalan setengah lagu, tibalah Joni untuk unjuk gigi dengan memainkan melodi yang udah diapalin selama dua minggu. Ngga disangka-sangka saat Joni mau nginjek efek, matanya melotot kaget. Entah dari mana dan kapan datangnya, efek yang dari band pertama masih standard, udah berubah jadi efek digital!?
Mau nggak mau, Joni yang udah biasa pake efek standard waktu latihan di studio, malah asal pencet.

Ngga usah kaget. Yang keluar malah efek suara helikopter (kaya di film-film perang) yang bikin melodi Metallica a la Joni, jadi kaya suara kentut!!! Tapi Joni nggak keabisan akal, dengan sangat-sangat reflek, kakinya mencet sekali lagi. Eh... yang keluar lagi-lagi salah, yaitu suara efek yang biasa buat melodi lagu-lagu Cina (bunyinya klenteng-klenteng). Lagu Metallicanya jadi amburadul. Oki dan Deni masih berusaha menjaga bit musiknya biar nggak kabur. Si Joni kakinya mencak-mencak nyari suara efek yang pas, sambil tetep mainin melodi (bisa dibayangkan melodi jalan terus, tapi suara efeknya diganti-ganti). Akhirnya si suara efek standard ketemu pas banget tuh lagu abis. Mereka bertiga sampe nggak sadar kalo penonton matanya udah berair lantaran ngakak ngeliat tingkah Trio yang bikin geli, malahan ada yang ngakak sampe terguling-guling gara-gara dia sempet ngeliat foto si Jago yang lagi nyengir seakan ikut menertawai.

Trio cs pun turun panggung, pasang muka sebel dan penuh protes pada panitia yang mengganti efek standard dengan efek digital, mereka pasrah pada nasib.

Para musisi cadas telah pergi, hanya tinggal mas Log Zhelebour yang lagi menyeleksi (maklum band yang beruntung dilirik bakalan dikasih kesempatan untuk rekaman). Lantaran udah yakin nggak bakalan dilirik, mereka berjalan menuju pintu keluar dengan muka super lecek.

Tepat selangkah dari pintu keluar, seseorang yang tidak asing mengulurkan tangan hendak menyapa.

“Malam ade-ade semuanya, perkenalkan saya Timbul....”

“Oh iya-iya, om Timbul yang pelawak dari gado-gado humor itu kan? Iya-iya, ada apa om?” Oki menjawab....

”Huss... bukan gado-gado humor, tapi ketoprak humor...” Deni ngomelin Oki.

“Begini ade-ade, saya tadi udah ngeliat ade-ade perform, sampe ngeliat ada foto ayam nyengir, menurut saya lucu juga... (ternyata yang tadi ketawa sambil guling-guling tuh si om Timbul), bisa ngga besok ke kantor saya, buat casting Ketoprak Humor?”
Trio Cs: “HAAAAAA ??“
Cerpen by Rangga Pandu Asmara Jingga

1 comment:

  1. hahaha.. bagus om Angga Jingga.. :D
    terus berkarya

    ReplyDelete