Apr 17, 2009

Merah-Biru

Sore itu aku sedang duduk di sofa, di pojokan ruangan bernuansa minimalis berjudul kedai kopi di tengah kota. Di sini aku membuat janji bertemu dengan seseorang. Jam di tanganku menunjuk waktu pukul 3 sore. Terlalu cepat setengah jam memang dari waktu janjian kami: setengah empat. Tak apalah di tempat ngopi seperti ini setengah jam tak akan terasa lama.

Sambil menunggu, aku memesan roti bakar coklat-kacang dan cappuccino punch. Beruntung aku sedang bawa laptop, jadi kumanfaatkan saja wi-fi gratis di sini dengan tujuan mengusir bosan. Ternyata tujuan itu tak tercapai. Baru lima menit aku mengotak-atik jaringan Internet, aku sudah bosan. Bahkan salah satu site social networking online pun sudah terasa membosankan buatku. Tidak terlalu menarik lagi melihat orang-orang berganti status tiap menitnya.




Kusingkirkan laptop itu dari hadapanku, tapi kubiarkan ia tetap menyala dengan messenger yang juga online. Aku pasang ikon busy di status messenger-ku. Biarlah, daripada wi-fi-nya nganggur kan mubazir. Lalu, kukeluarkan sebuah sketchbook dari tasku; Sebuah buku kecil berisi coretan gambar tanganku. Jujur, aku tak bisa menggambar, pun merasa tak berbakat menjadi artist, tapi bukan dosa, kan, seorang yang tak bisa dan tak berbakat menggambar menyukai aktivitas menggambar?! Jadi, inilah aku, di pojokan kedai kopi bertema café futuristik, dengan laptop yang menyala, dan tangan yang sibuk dengan pensil dan sketchbook.

Kali ini, aku menggambar jembatan. Entah kenapa, tapi satu-satunya yang muncul di imajiku saat pensil ini bertengger di jari-jari tangan kananku adalah jembatan tua berbentuk hampir setengah lingkaran yang bolong di sana-sini. Warnanya merah dan biru.

Merah dan biru?

Sedikit tersentak, tiba-tiba kuingat sesuatu tentang merah dan biru. Sebuah memori yang pernah jadi serangkaian hari mendayu-dayu di masa lalu. Percaya atau tidak, masa lalu itu masih aku bawa sampai kini. Masa lalu itu ada di dalam organizer buluk, dalam tas yang ada di pangkuanku. Perhatianku yang awalnya pada laptop, lalu bergulir ke pensil dan sketchbook, sekarang beralih ke organizer buluk di tanganku. Perlahan kubuka organizer itu, kuselipkan jari-jariku di lipatan kulit organizer halaman paling belakang.

Jari-jariku menggapai-gapai, mencari si merah dan biru. Di ruang yang sempit itu jari-jari ini merasakan merah-biru masih di sana. Ditariknya perlahan, sampai ia keluar, seperti bayi baru lahir. Sampai akhirnya tergeletaklah si merah-biru tepat di depan mataku. Sehelai foto berwarna, sebagian merah, sebagian biru. Foto aku dan kamu, dulu. Sebuah foto biasa, hasil editan kamu, sisi aku berwarna merah, sisi kamu berwarna biru. Padahal di foto itu kita bersebelahan, dalam satu tempat, begitu rapat, tapi terpisah oleh warna. Aku merah, kamu biru. Sesuai warna kesukaan kita masing-masing.

Tak sadar, sebelah bibirku naik, mengukir senyum kecil. Aku teringat waktu dulu kamu dengan bangganya memberikan foto ini padaku. Kamu begitu bersemangat dan menggebu-gebu. Bahkan aku ingat, kamu sempat bilang, “lihat! Bagus ya? Kamu kan suka merah, aku suka biru. Nih digabungin juga lucu, tetep nyambung. Padahal merah sama biru beda banget kan?”

Waktu itu aku bilang iya-iya saja. Waktu itu aku terlalu bisu untuk bilang jujur bahwa foto itu tak sebagus apa yang diekspresikannya. Waktu itu yang terpenting buatku adalah bahwa kamu sangat memperhatikan kesukaanku, sampai ke warna favoritku.

Kamu dan aku sama-sama tak sadar bahwa di antara biru dan merah ada perpaduan keduanya yang berwarna ungu, terbentang antara kamu dan aku, antara merah dan biru. Walau tipis dan tak kentara, ungu itu tetap ada dan menjadi pembatas, antara merahku dan birumu di foto itu. Sangat analogis dengan cerita perpisahan kita, sangat representatif.

Mataku tiba-tiba beralih lagi ke laptop, seperti mulanya saat aku sampai di café ini. Sehelai merah-biru masih tergeletak jelas di meja itu. Sekarang tangan kananku dengan lincah berlarian di touchpad , membuka folder demi folder dalam harddisk laptop, sampai pada satu folder yang entah kenapa masih membuatku tegang saat membaca namanya: MERAH-BIRU.

Akhirnya setelah menarik oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-paru, kubuka folder itu. Folder berisi memori Si Merah dan Si Biru. Ada foto, ada tulisanku, tulisanmu, dan dokumentasi yang kalau dipikir-pikir sungguh tidak penting.

Dasar kurang kerjaan! Gerutuku dalam hati, yang berarti mengutuki diriku sendiri karena folder itu Aku dan Kamu yang menciptakan, dan bahkan masih kusimpan sampai kini.

Dulu kamu pernah bilang, walaupun merah dan biru terkesan berseberangan, itu justru bisa saling melengkapi. Merah yang mirip dengan api, biru yang mirip dengan air, bisa menjadi penyeimbang. Air bisa memadamkan api yang berkobar, dan api juga bisa menghangatkan air yang dingin.

Itu analogi kita.

Dulu.

Lagi-lagi tak sadar, aku tersenyum melihat foto-foto kita, membaca tulisanku dan tulisanmu. Ekspresi orang yang sedang madly in love. Saat kita belum sadar bahwa air dan api bukan hanya berseberangan, tapi juga berpotensi saling mematikan.

Tiba-tiba messenger-ku berkedip dan bersuara. Ada yang mengajak ngobrol rupanya. Si folder merah-biru ku-minimize. Dan entah ini pertanda surga atau neraka, ternyata Kamu, Si Biru dari masa lalu lah yang mengajakku ngobrol lewat messenger itu. Di sana kamu cuma menuliskan tiga huruf :

feromon_yetganteng : Hai


Bersambung


Cerpen oleh Nisa Risti Mustikasari

6 comments:

  1. Melihat tulisan ini, menyadari bahwasanya ada unsur kita yang sama

    kesan tenangmu saat menulis trpancar, udah ckp sering nulis kek na

    sdkt saran, cerpen ga sama dg novel
    ada ketukan/tempo yg harus kaumainkan dg lbh intens
    ada emosi pembaca yg harus kautarik dari judul dan kalimat pertama
    aku menyebutnya 'suspense'

    plus keseimbgan deskripsi dan dialog
    aku menunggu lanjtnx

    thanks

    ReplyDelete
  2. makasih saran nya Pringadi
    mungkin agak jadi 'ga dapet' sense-nya karena dipotong-potong sih..
    hoho

    Mudah2an besok2 bisa bikin yang lebih baik lagi..tengkyuuu

    ReplyDelete
  3. nisa risti mustikasari a.k.a icutApril 22, 2009 at 8:45 AM

    makasih saran nya Pringadi
    mungkin agak jadi 'ga dapet' sense-nya karena dipotong-potong sih..
    hoho

    Mudah2an besok2 bisa bikin yang lebih baik lagi..tengkyuuu

    ReplyDelete
  4. kalo menurut aku, cerita ini bagus banget kak.
    tapi iya bener, depannya kurang menarik kak :)
    maaf ya kalau sotoy :P

    ReplyDelete
  5. hoho...

    gapapa stella..makasi kritiknya
    sip sip...diterima dgn lapang dada (bukan lapang sepak bola tapi, hehe)..senang ada feedback dari yang baca
    thankyou... :)

    ReplyDelete
  6. kalo menurut ak ,,
    cerpennya bagus bgtt kok
    Temanya bener2 seger
    aku ska bgtt bacanya
    Kayanya cma blang itu aja dech bingung nigh mw ngomentarin ap ?? He
    Abis kan ak ni kan masih anak baru....

    ReplyDelete