Sep 9, 2009

One Night Love

Malam itu keduanya pun bercanda-canda dan saling menceritakan hobi masing-masing, seakaan mereka teman yang sudah kenal lama. Tidak ada rasa canggung ataupun segan. Feli yang sifatnya easily impressed mudah sekali menerima Adit yang sangat ramah dan friendly. Di saat Feli benar-benar melupakan Revo karena suasana nyaman yang dibangun Adit, handphone Feli pun berbunyi. Orang yang sangat ingin dihilangkannya dari muka bumi malah menelpon.

Revo Calling...

“Aarggghh.” Feli segera mematikan handphone-nya lalu memasukannya ke dalam tas.

“Rese banget sihh, pasti nanti nelpon-nelpon lagi deh.” Feli bergumam sendiri.

Adit hanya diam dan melihat Feli. Bukan melihat tapi memerhatikan. Rasa kesal Feli yang muncul lagi dan teringat kembali kejadian itu membuat Feli langsung saja curhat ke Adit, Feli merasa tidak bisa lagi menahan kekesalannya.

“Arrrrgghhhh, bete banget... Lo bayangin ya, Dit, Cowok gue ciuman sama temen gue sendiri di depan mata gue.”

“Wooow! Gila juga ya... tapi emang lo udah denger penjelasan dia?”

“Penjelasan? Gue rasa udah jelas dengan tindakan dia itu.”

“Ehhmm. Jadi lo yakin banget dia 100 persen salah?”

“Iya.” Jawab Feli tegas. Mereka berdua pun terdiam. “Lagian kenapa gue harus denger penjelasan? Kan, semuanya udah jelas.”

Cause everything have a reason. Walaupun memang pada akhirnya cowok lo yang salah, lo tau, kan, kenapa dia berbuat itu dan jadi pelajaran buat lo. Nah, kalo lo cuma bisa lari, lo gak akan dapet apa-apa. Yang ada lo akan stuck dengan keadaan yang masih gak jelas.” Perkataan Adit membuat Feli sedikit berpikir dan merenung.

“Mungkin lo ada benernya Dit. Thanks, ya, lo udah kasih ceramah yang bantu gue.”

“Ya udah bayar, kan, penceramah pasti dibayar.”

“Iiihh, gitu banget. Gue bayar pake lagu aja.”

“Emang lo bisa nyanyi?” Nada suara Adit meremehkan Feli.

“Eitss... sini gitar lo.” Pinta Feli. Ia pun segera pindah tempat duduk ke samping Adit.

As so much I love you.” Feli memulai lagunya. Lagu Hate that I Love You pun berkumandang sayup-sayup di pojokan kedai kopi bertaraf internasional yang sekarang pengunjungnya hanya tinggal mereka berdua.

Mereka berdua tenggelam dalam indahnya alunan gitar dan suara Feli. Adit menatap dan memerhatikan Feli begitu dalam. Tatapan itu membuat jantung Feli tiba-tiba berdegup kencang. Ia bahkan tak sanggup menyelesaikan bait terakhir lagunya. “Nih, gantian.” Feli mendorong gitarnya ke Adit dan membiarkan Adit memainkannya.

Feli masih tidak percaya bagaimana bisa ia begitu gugup bersebelahan dengan Adit. Ia merasa tak karuan sekarang. Tak mungkin Aphrodite begitu cepat menancapkan panah cintanya ke hati Feli, tapi Feli merasa sekarang Aphrodite telah melakukannya. Tapi mana mungkin bisa jatuh cinta dengan pria yang baru dikenal dua jam yang lalu? Feli berusaha meyakinkan hatinya.

Saat Adit menoleh ke Feli dan memberikan senyumannya, Feli sangat yakin kalau di sudah jatuh cinta dengan pria yang baru dikenalnya ini. Yang dilakukan Feli sekarang hanya bisa menatap matanya Adit, begitu juga Adit. Adegan pandang-pandangan ini berlangung sekitar lima menit. Entah apa yang ada dipikiran Adit, yang Feli rasakan hanyalah cinta.

“Maaf mas, kita udah mau closing.” Tiba-tiba seorang waitress menginterupsi kegiatan pandang-pandangan mereka.

“Oh, oke.” Adit pun segera merapikan laptop dan membungkus kembali gitarnya.

Mereka berdua segera melangkah keluar bersamaan. Perasaan Feli masih bercampur aduk, ia merasa sekarang logikanya sama sekali tidak bisa berkerja, karena hatinya sudah menguasai dirinya.

“Pulang sama siapa?” Tanya Adit.

“Sendiri, Gue bawa mobil, kok.” Jawab Feli sambil menunjuk ke belakang.

“Oke, bye.” Adit berbalik duluan, tapi badannya masih ragu. Ia berbalik lagi ke Feli, “Ehhm, hati-hati ya udah malam. Bye.” Ia pun melangkah balik.

“Dit.” Panggil Feli, “Thanks ya.”

“Iya.” Adit pun sekarang akhirnya benar-benar pergi dan melangkah menuju mobilnya.

Feli masih tidak percaya kalau Adit pergi begitu saja, tidak ada nomor handphone atau alamat rumah. Bahkan Feli baru sadar ia tidak tahu siapa Adit itu sebenarnya. Yang Feli tau ia sudah jatuh cinta dengan pria yang meninggalkan dia begitu saja. Cinta Feli dimulai malam ini dan berkhir malam ini pula.

Feli baru sadar picks gitar Adit masih ada di tanganya.

Mobil Adit baru mulai berjalan. Feli segera berlari mengejar Adit, namun stiletto sangat tidak mendukung Feli malam ini. Akhirnya Feli memutuskan untuk berhenti.

Picks gitar berwarna hitam dan bertuliskan ‘play with soul’ ini lah yang akan menjadi satu-satunya kenangan yang tertinggal dari Adit.

Tiba-tiba handphone Feli berbunyi lagi. Feli sedikit bingung karena tadi ia yakin sudah mematikannya handphone-nya. Saat melihat layar handphone-nya, ternyata itu dari Revo. Oke, sekarang logika Feli mulai mengambil alih, mana mungkin tiba-tiba Adit yang tidak tau nomor Feli bisa menelponnya.

“Ya, kenapa?” Feli segera menjawab Revo. Ia yakin yang dikatakan Adit benar, kalau semuanya pasti ada sebab dan tidak ada salahnya untuk mengetahui apa yang terjadi daripada harus terjebak dalam ketidak-jelasan.

Dalam hati Feli berucap terima kasih untuk Adit, teman untuk satu malam, pria yang membuka pikiran Feli, menyanyikan lagu untuk Feli, menghibur Feli, dan memberikan indahnya rasa jatuh cinta, juga untuk tissue basah yang menghapus noda maskara yang luntur.

***

Cerpen oleh Rosnalia

9 comments:

  1. Wah........
    Cinta untuk 1 mlm z,,,,,,
    Duh....
    knapa bkn utk slamanya???

    ReplyDelete
  2. ya elah...cerpen kaya gini jeleknya kok bisa masuk kandangagas ya?? perasaan masih bagus cerpen gue tapi gak tembus2 kandangagas mulu

    ReplyDelete
  3. 2 kata deh, "biasa aja"
    banyak kok crt gini di majalah remaja...

    ReplyDelete
  4. jgn di bilang gitu dongg .. tetep smangat ya !! ^^v God Bless

    ReplyDelete
  5. endding nya agak gk mnarik . hehe :P
    keep semangat ya

    ReplyDelete
  6. Perasaan Aphrodite ga bawa-bawa panah, deh. Cupid kali maksud lo...!

    ReplyDelete