Oct 14, 2008

Warung Koboi

Sejak jam setengah lima sore, Suher sudah menata warung koboinya di sudut pusat kota Yogyakarta. Warung makan gerobak dorong panjang dengan dua tiga tungku arang untuk memanaskan ceret air sepanjang malam.

Warung ini menjajakan nasi bungkus sekali telan dan ribuan jenis gorengan. Beberapa minuman penghangat malam pun disediakan disini, mulai dari teh hangat, hingga jahe susu hangat. Pembeli dipersilahkan nangkring (bahasa Indonesianya: bertengger, betul?) bak koboi pada salah satu dari dua kursi panjang kayu tanpa sandaran, satu disisi penjual dan satu kursi lainnya di sisi lain gerobak dorong itu. Harga yang ditawarkan, menjadikan warung-warung koboi seperti ini tumbuh subur didaerah kantung-kantung mahasiswa yang memang kantongnya nyaris selalu tanpa isi.

Jam lima sore.

Dan pelanggan pertama pun, datang. Seorang pria berusia awal empat puluhan yang dari ujung rambut sampai ujung kepala mengesankan kalau dia baru saja keluar dari majalah model yang biasa ada di tukang jahit. Serba rapi.

Jaket kulit berwarna hitam mengkilat, celana yang disetrika rapi. Dibawahnya, mengenakan sepatu mengkilap yang tampak mahal. Kemeja yang dikenakan di balik jaket-pun tampaknya juga bebas dari kerutan.

Rambut yang mengombak, disisir rapi dan menggunakan minyak rambut hingga berkilap di bawah temaram lampu 5 watt milik Warung Koboi Suher . Pria ini memiliki muka yang lebar dengan bibir yang senantiasa menyunggingkan senyum. Dilengkapi mata yang selalu berbinar ceria, orang akan merasa senang jika berada di dekatnya.

Begitu bapak ini menaruh tas kerjanya, yang kelihatan berat, di samping tempat dia duduk, Suher dengan tenaga yang masih penuh bertanya seramah mungkin,

“Mau minum apa, Pak?”

“Air putih saja. Maklum lagi menghindari yang manis-manis.” jawab sang bapak yang serba rapi. Kemudian bapak itu mengambil nasi kucing (nasi dengan sambal tongkol satu suwir – cocok buat makan kucing, kalau saja tidak ditambah sedikit sambal di dalamnya), membuka bungkusnya yang dari kertas koran dan daun, mengambil sendok dan mulai memakannya.

Sambil menyerahkan air putih, Suher bertanya, “Nggak pake gorengan, Pak?”

“Oh, nggak. Maklum lagi menghindari yang berminyak-minyak.” jawab bapak itu, tetap sambil tersenyum.

“Kerja dimana, Pak” tanya Suher. Warung koboi adalah tempat efektif untuk ngobrol kesana-kemari hingga pagi, bahkan dengan orang yang baru pertama ketemu.

“Di bank.”

“Wah, duite banyak, pasti.”

“Oh, ya. apalagi ini saya baru saja dapat nasabah dan untung besar!” bapak itu mengambil nasi kedua, lalu melanjutkan, “Kalo mau, masnya jadi nasabahku saja. Pasti dapat duit banyak!”

“Wah, aku nggak punya duit, je.”

“Nggak perlu duit banyak, kok mas. Begini caranya....”

Belum sempat bapak parlente itu menjelaskan lebih jauh, dua orang laki-laki berbadan tegap dan berjaket kulit hitam memegang pundaknya. Masing-masing orang di satu pundak si bapak klimis.

“Kami dari Kepolisian. Bapak kami tangkap karena diduga melakukan praktek penipuan. Silahkan ikut kami.” kata salah seorang pria berbadan tegap.

“Hah”

****

Jam setengah enam sore.

Tiga sepeda motor menghampiri Warung Koboi Suher dengan hiruk pikuk. Lima orang penumpangnya begitu turun dari motor, langsung menyerbu ke arah Suher.

“Suher, es teh!”

“Es jeruk!”

“Es Joss!”

“Es sirup!”

“Es te em je!” teriak mereka hampir bebarengan, membuat Suher kelimpungan membuatkan pesanan mereka.

Mereka adalah para abas (anak basket) yang tiap sore main basket di SMA dekat sini. Dengan segala dandanan dan tingkah polah, serta percakapan mereka yang sok cool, merupakan hiburan tersendiri bagi perjalanan Suher menanti subuh setiap harinya.

Lihat saja, di lengan kanan mereka yang tidak tertutup karena memakai baju basket tanpa lengan, terpatri tato angka lima di dalam lingkaran. Semula Suher menyangka itu adalah sombol dari tim mereka berlima, simbol dari rasa solidaritas antar lelaki.

Ketika Suher menanyakan arti tato itu, jawabnya,

“Ini adalah tanda kalo kami ini tidak pernah mendapat nilai lebih dari lima di sekolah!” kata salah satu diantara mereka dengan bangga.

Meskipun begitu, tim basket ajaib ini ternyata hebat juga. Setiap sore mulai jam setengah empat sampai setengah enam, mereka tekun berlatih basket. Di hari yang cerah maupun di hari-hari hujan turun (tentu saja kalau hujan, mereka lebih banyak main air).

Ketika Suher bertanya lagi kepada mereka, “Apa sih, yang kalian harapkan sama latihan tiap hari kalian? Biar bisa jadi juara IBL?”

Jawab mereka,

“Biar bisa jadi pilot!”

“Jadi dokter!”

“Presiden!”

“Model!”

“Petani!”

Nah, hebat kan.

Kemudian, minuman dibagikan. Mereka segera saja minum dengan lahap.Lalu,

“Tambah air putih, Her!” seru mereka kompak, menyodorkan gelas yang sudah kosong ke arah Suher.

Setelah air putih dibagi rata, anak-anak konyol ini mengambil gorengan untuk menemani mereka gojek kere. Gojek adalah bercandaan, dan kere artinya miskin. Memang sedari lahir, lima orang ini tidak pernah terlepas dari huruf: m-i-s-k-i dan n.

Gojek kere mereka belum kunjung usai hingga melewati adzan maghrib yang telah lama dikumandangkan. Ini berarti sebentar lagi akan dilaksanakan ritual rutin yang menarik.

“Supriiii! Pulang! Sudah dibilang berapa kali, kalo maghrib harus dirumah!” raung ibunya Supri sambil menggelandang anak lelakinya keluar dari Warung Koboi Suher.

“Moko! Ayo pulang! Besok sekolah, masih aja disini!” ibu Moko menyeret anaknya kerumah.

“Oalah, le! Udah maghrib kok belum pulang. Ayo, solat dulu, San!” kata ibu Haji Iksan.

“Anjar!” ibu Anjar menjewer anak badungnya.

“Tomo!” ibu Tomo menjambak rambut anak bandelnya.

Suher hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, “Tiap hari, kok yo ndak kapok-kapok, tho.”

****

Jam setengah delapan malam.

Hujan turun sejak setengah jam yang lalu. Ditambah angin dingin yang berhembus dari Kaliurang, membuat Suher belum mendapatkan pelanggan lagi sejak perginya anak-anak basket tadi.

Tiba-tiba datang sambil berlarian dari balik rinai hujan, sepasang pemuda menyeruak masuk ke dalam Warung Koboi Suher.

“Jahe Susu, mas.” pesan si cewek, sambil mengeringkan rambutnya dengan sapu tangan.

“Jahe susu juga, Mas.” kata si cowok, menyamakan selera (bahkan, mungkin kalau dia alergi susu).

“Sori, ya Lih. Jadinya hujan-hujan begini.” kata sang pria muda kepada Galih.

“Nggak pa-pa, kok Yun. Lagian, aku emang pengen nonton film itu.” jawab Galih kepada Kayun. Rupanya mereka habis nonton film, di biokop yang semakin langka di Jogja, di dekat sini.

Sambil menghangatkan diri dengan minuman jahe susu pesanan dan gorengan, dua anak manusia berbeda jenis ini terlibat obrolan khas orang yang sedang dimabuk kasmaran.

Tapi melihat cara mereka ngobrol yang masih malu-malu mau, Suher dapat menyimpulkan kalo dua orang ini, yang kayaknya mahasiswa semester-semester awal, baru tahap pe de ka te atau baru jadian. Ho ho, Suher juga pernah muda, kok.

Benar saja,

Setelah keheningan diantara mereka yang tidak mengenakkan. Setelah beberapa saat sang cowok tidak bisa duduk tenang dan hanya memainkan sendok digelasnya,

“Ehm, Lih. Sebenarnya Kayun suka Galih sejak dulu. Boleh nggak, Kayun jadi pacar Galih?” tembak Kayun lembut.

Sang wanita muda terkejut, atau pura-pura terkejut. Sedikit rona merah menghiasi pipinya yang penuh. Senyum tersipu membayang di bibirnya yang mungil. Cuping hidungnya yang kecil mengembang. Tapi binar matanya yang bak kelereng hitam pekat, berkilat.

Kelebihan pria adalah, dia bebas menyatakan cinta kepada wanita mana saja. Sedangkan kelebihan wanita adalah, dia bebas menolak pria mana saja. Inilah yang Kayun rasakan. Sebentar waktu yang dibutuhkan Galih untuk menyusun jawaban, dirasa Kayun sebagai kehancuran usaha pendekatannya selama ini.

Akhirnya, penantian yang seolah tanpa ujung itu, usai sudah (padahal saat Suher melirik jam tangannya, tidak lebih dari 2 menit!).

“Sama-sama. Terima Galih apa adanya, ya.” Galih menerima!

Maka hilanglah semua penghalang diantara mereka selama ini. Keraguan dan ketidakpastian lenyap musnah berganti ketulusan dan kepercayaan.

Mereka pun saling merapatkan duduknya, saling berpegangan tangan, saling berpelukan, saling berciu....

“Hoi, hoi! Lanjutannya diteruskan di hotel sebelah aja!” sambar Suher, menghentikan tepat pada adegan yang dapat menyebabkan cerpen ini tidak layak terbit.

“Ehm, eh, sori Mas. Berapa semuanya, Mas?” kata Kayun menetralisir suasana.

“Sepuluh ribu.” kata Suher dengan quick count yang telah terlatih bertahun-tahun.

Kayun mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan menyerahkan kepada Suher.

“Wah, ya ndak ada kembaliannya, Mas. Orang dari tadi sepi. Gak ada yang lain?” kata Suher.

“Nggak ada, Mas. Yang dua lembar lagi juga seratus ribuan. Kamu ada, dek?” tanya Kayun kepada Galih. Belum juga lima menit jadian, Kayun sudah manggil-manggil “dek” ke Galih.

“Kan dompet Galih ketinggalan, Mas.” jawab Galih. Ini juga.

“Gimana in, Mas? Ato nanti aja kalo habis dari hotel?” tawar Kayun.

“Ya, udah.” jawab Suher pasrah.

Dua sejoli itupun berlari ke hotel terdekat, dibawah hujan gerimis dan hawa dingin yang provokatif.

Sekali lagi, Suher hanya bisa menggelengkan kepala, “Dasar anak jaman sekarang.”

****

Jam setengah setengah sepuluh malam.

Hujan telah berhenti. Suher duduk termenung sendirian di bangku panjang dari kayu, di tempatnya berjualan. “Ada apa dengan hari ini?” tanya benak Suher, gundah.

Semua pembeli yang datang sejak tadi sore memiliki kesamaan: SEMUANYA BELUM ADA YANG BAYAR!

Arrggh... bagaimana nanti dia mempertanggunjawabkan ke istri dan anaknya yang mau masuk SMP?

Tapi, habis hujan terbitlah harapan. Ini ditandai dengan datangnya dua orang ke warung angkringanya. Satu pria dan satu wanita yang masih mengenakan pakaian kerja. Tampaknya habis lembur dari kantor.

Suher langsung menyapa ramah, “Mau minum apa, Mas, Mbak?”

“Es teh.” jawab yang pria,

“Teh anget.” jawab yang wanita.

Sambutan yang ramah dibalas dengan jawaban-jawaban yang dingin, memaksa Suher mengamati mereka. Ekspresi kedua orang yang duduk diseberangnya, memancarkan aura permusuhan diantara mereka.

Wajah yang kaku ditampakkan oleh pihak pria. Mata sembab habis nangis tidak dapat disembunyikan dari pihak wanita. Ketika minuman pesanan diberikan, meledaklah pertempuran diantara mereka.

“Trus, jadinya kapan Mas mau nikahi aku?” tuntut sang wanita.

“Arrggh! Dari tadi itu-itu terus yang kamu omongkan! Sudah kubilang aku belum siap. Aku baru setengah tahun kerja disitu, kan. Belum boleh nikah. Apalagi kamu atasanku. Gimana, sih?!” seru sang pria.

“Tapi, tapi...”

“Tapi apalagi?! Masih nggak mudeng, juga hah?!”

“Aku hamil, Mas.” wanita itu berkata lirih.

“APA?! KAMU HAMIL?!” seru sang pria dan Suher bebarengan.

Sepasang kekasih ini menatap tajam Suher. Suher salah tingkah.

“Ehm, eh. Silahkan dilanjutkan.” Suher nyengir, sambil pura-pura melongok ke ceret di depannya.

“Gimana ini, Mas?” tuntut wanita berwajah tirus itu.

Yang ditanya tidak menjawab, sibuk melonggarkan dasi yang sebetulnya sudah longgar dari tadi.

“Mas!”

“Ya udah. Kamu gugurkan saja kandunganmu itu.”

PLAK

Pria itu memegangi pipinya yang memerah, habis ditampar.

“Beraninya kau...” sang pria mendidih. Siap melakukan kekerasan balasan. Seperti biasa, Suher bertindak sigap,

“Hoi, hoi! Jangan berantem disini! Lanjutannya diteruskan saja di.....”

Kalimat itu tidak sempat diselesaikan Suher, karena mendadak banyak orang berlarian dari arah timur di jalan depan warungnya. Laki-laki-perempuan, tua-muda semuanya berlarian panik. Motor yang baru saja melintas menuju timur, segera berbalik arah.

Suher yang merasakan gelagat tidak enak, segera mencegat seseorang diantara mereka.

“Ada apa ini, Mbok?!”

“Oalah, gawat, le. Kerusuhan! Mahasiswa yang demo BBM bentrok sama Polisi. Koe, juga mending cepet kabur, le!” selesai berbicara, ibu yang membawa bakul dagangannya itu segera melesat meninggalkan Suher.

Suher segera saja mengemasi dagangannya yang belum berkurang banyak dari tadi sore. Begitu sadar, pasangan bermasalah tadi sudah tidak kelihatan batang hidungnya.

Diamput!

Makian itulah yang terdengar jejak Suher terakhir kalinya, sebelum dia ditelan kegelapan malam dan hiruk-pikuk kerusuhan massa.

Entah makian untuk nasibnya.

Entah makian buat semua pembeli yang tidak bayar di hari ini.

T A M A T

Cerpen by Pradna Pramitha

17 comments:

  1. huaaaa lucu buanget ceritanya... ditunggu cerita selanjutnya yahhh! keep the good work, pradna paramita!

    ReplyDelete
  2. @ackmali@ (nama yg sulit :-) )
    Makasih,
    dah rela (or nekat?) komen cerpen saia.

    Amin. Semoga sia tetep semangat nulis, hehe

    Demikian.
    Tetep tuengkyu.

    ReplyDelete
  3. nice short story :D
    keep ur writing spirit up yach ^o^

    ReplyDelete
  4. @putri_ling, makasih

    Semangat nulis-nya juga ya!

    ReplyDelete
  5. hyahyahyahyaaa....amusing banget..tetp semangat ya..thanks..ADHX

    ReplyDelete
  6. thanks, om/tante ADHX

    Semoga saia tetep semangat. Amin :)

    ReplyDelete
  7. bagus sekali... indonesia sekali... dan suher kasian sekali...

    ReplyDelete
  8. edan man lah serpennya lucu-lucu gimana????

    ReplyDelete
  9. @febriani & @freelancer,

    makaci,makaci... semoga saia teuteup bisa mmpertahankan kualitas di tulisan2 berikutnya.. amiiin.

    ReplyDelete
  10. agak monoton dari pasangan yang ke hotel terus yg mo gugurin kandungan, padahal tadi tebakanku suami istri mau cerai, hehehe...

    tapi ide ceritanya bagus, endingnya juga menarik, kasihan juga sama c suher ^^

    ReplyDelete
  11. @fny_w : kl yg diceritakan itu suami istri yg mo cerai jadinya ga monoton ya mbak...hehe.

    Thanks and Regards
    Pradna

    ReplyDelete
  12. trus kalo udah dimuat disini, ada tindak lanjut dari gagas untuk bikin buku?! mohon infonya

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. wuahahahahahah.... seperti biasa, lucu dan menggemaskan

    kalo ada cerpen baru lagi yg dimuat, kabar2in yo mas :D

    *salam sm Suher --> nama lengkapnya sapa?

    ReplyDelete