Jul 8, 2009

Entendu! Entendu!

JE viens d’Indonésie (1).” Saya berkata sesopan mungkin, mencoba kefasihan saya dalam berbahasa Prancis yang sudah lama saya pelajari.

Entah kenapa Ramon dan Georgia terkikik heran melihat saya berbicara. Apakah ada nada yang aneh dengan bahasa Prancis yang saya ucapkan? Apakah saya salah mengucapkan sesuatu?

Of course, Sir. I know you’re an Asian-boy. And what’s wrong with that?” Wanita Eropa itu menatap saya sengit. Dengan langkah yang membuat pekak telinga—karena wanita Eropa itu mengenakan stiletto—ia pergi.

Saya berpaling ke arah Ramon dan Georgia. ”Kalian benar-benar menjengkelkan!”

Ou, vous venez de très loin! Étudiant(2)?” Ramon yang asli Prancis berkata demikian, berusaha mengolok saya.

”Sudahlah, Wil. Lebih baik kita segera ke stasiun. Lebih cepat lebih baik, bukan?” Georgia mencoba menengahkan.

Saya tentu saja setuju. Tetapi perbuatan tadi tidak dapat saya terima. Bayangkan saja, dengan seenaknya tadi Ramon bilang kalau wanita Eropa yang cantik itu menyapanya dengan dalih ingin bertanya negeri asal saya. Dan ketika saya berkata sesopan mungkin dengan bahasa Prancis, ternyata orang itu sama sekali tidak melakukan apa yang dibilang Ramon. Dan dynamic duo itu malah tertawa melihat respons orang itu.

***


Seketika saya terkagum melihat sekumpulan wanita yang rupanya sangat menakjubkan. Mereka tampak stylish dan trendi. Mungkin mereka model, atau sekedar kalangan socialite Paris saja?

Elles habitent près d’ici (3).” Ramon mencoba memberitahu saya. Sudah saya duga, bukan? Orang-orang yang tinggal di dekat sini memang salah satu kumpulan social elite yang ada di Paris.

”Nggak penting ah, ngeliatin orang kayak gitu. Liat deh, rata-rata bodinya mirip papan gilesan! Yuk, ah!” Georgia yang sudah tinggal di Jakarta selama enam tahun memang fasih berbahasa Indonesia, bahkan ia sangat gemar dengan bahasa Betawi. Sedangkan Ramon, cowok Italia berpostur tinggi dan punya sifat kekanakan itu hanya tahu identitas Indonesia sebagai Bali. Dia tahu Bali tapi tidak tahu Indonesia. Sungguh ironis!

”Untuk ke perbatasan Italia, kita mesti naik apa?” tanya saya.

”Lho, siapa yang mau ke Italia?” Georgia mengernyit heran.

”Biasalah, orang Indonesia ini punya penyakit akut yang aneh,” seloroh Ramon.

Saya jadi bingung sendiri. Padahal saya masih ingat sekali kalau tadi pagi mereka bilang akan mengajak saya pergi ke Italia siang ini. Jarak Italia dari Prancis tidak terlalu jauh, dan kami sekarang masih di Paris.

”Bukannya kita mau melihat fashion show?” Georgia malah balik bertanya pada saya.

”Bukan, bukan! Kita mau ke Eiffel, kan? Katanya kamu belum pernah ke sana, Wil?” Ramon memotong.

Duh, kok rasanya saya mirip jadi turis asing begini. Padahal kami bertiga sudah menjadi housemate selama dua tahun. Dan minggu ini adalah minggu terakhir saya menginjakkan kaki saya di Paris, Prancis.

”Kita sudah bersama-sama pergi ke Eiffel, berapa kali, heh? Saya ingin ke Italia, saya ingin ke Milan.” Saya mencoba menjelaskan.

Milan Fashion Week sudah lewat!” Georgia menyumbang suara. ”Kalaupun ada fashion show, pastinya fashion show kecil-kecilan. Aku tidak berminat melihatnya, Wil.”

Hahh… apa-apaan Georgia ini. Saya kan mau menghabiskan minggu terakhir saya dengan kesan yang tak bisa dilupakan! Kenapa malah lari ke fashion show?

Ramon malah tertawa melihat reaksi saya yang linglung. ”Lebih baik kita pergi naik sepeda keliling Paris, lebih menyenangkan. Atau kita buat pesta, bagaimana?”

Huh, pesta, pesta dan pesta. Saya sudah bosan dengan yang namanya pesta ala orang Paris. Saya juga sudah bosan kena omel induk semang saya yang mengkomplain kalau tetangga sebelah terganggu oleh kebisingan pesta itu. Sebenarnya sih yang membuat bising itu suara Ramon! Bayangkan saja dengan suara bass yang nyaris tak bernada, ia menyanyikan lagu Anggun!

”Hey! Lihat tuh cewek itu! Rambutnya unik sekali!” pekik Georgia melihat seorang perempuan dengan rambut yang disasak tinggi lalu diikat.

Itu sih bukannya unik, tetapi absurd!

”Tidak penting. Sekarang kita mau ke mana sih?” Ramon akhirnya berkata seperti itu. Cukuplah untuk mewakili suara saya. ”Ke Italia? Itu jelas-jelas tidak mungkin. Aku hanya punya uang sedikit sekali.”

Langkah kami terhenti. Yang tadinya ingin ke stasiun, langsung berubah pikiran untuk ke restoran saja. Pupus sudah harapan saya untuk ke negara tetangga Prancis tersebut. Saya memang sudah lama mengidamkan menginjakkan kaki di Italia, khususnya Milan. Bukan karena fashion show-nya lho! Tapi kota itu memang sudah lama memikat hati saya.

Entah kenapa, di hati saya Paris tidak begitu istimewa lagi. Apa karena saya yang homesick, membuat saya rindu akan jalan berdebu dan panas di Jakarta?

”Ngelamun saja.” Georgia menegur saya. ”Malu ya, kalau nanti ditanya sama teman-teman kamu belum pernah ke Italia?”

”Bukan. Malas kalo nanti teman-teman kampus bertanya pada kita ’Où est-ce que vous préférez passer vos vacances (4)?’ nantinya!” jelas saya ketus.

”Iya sih, besok kan kita masih masuk kuliah,” kata Georgia. ”Jawab aja…”

Marcher dans les rues, manger au restaurant, faire du camping, aller au théâtre, visiter des musées, et rester chez des amis (5).” Ramon memotongnya sambil terkekeh.

”Bah, jawabannya kok kayak udah ngelakuin liburan, bukannya mau liburan,” sembur saya.

Ramon lagi-lagi terkekeh. Dasar makhluk planet!

”Udah deh, mendingan kita ke restoran. Gak sadar perut udah keroncongan begini ya?” Ramon memegang perutnya agar terlihat meyakinkan.

Entendu (6)!” seru Georgia yang tampaknya sama-sama lapar. Ia memandang ke arah saya yang keliatan nggak setuju dan akhirnya bertanya lagi. ”C’est entendu?”

Entendu!” seru Ramon nyengir. Saya tetap diam.

”Hoala, dia nggak setuju tuh!” tunjuk Georgia. Yang dimaksudkan tentu saja saya.

Tapi Ramon tampaknya tidak ambil pusing dengan ajuan kontra dari saya. Ia mengamit Georgia layaknya pacar, lalu meninggalkan saya. Benar-benar menyebalkan. Saya pun ikut lari bersama mereka yang hendak ke restoran tersebut.

Saya berdecak kagum pada Georgia yang mau saja dibawa lari dengan Ramon. Lihat apa yang ia kenakan. Stiletto berhak supertinggi dan tetap stabil berjalan. Dia memang terobsesi untuk jadi model.

Kami akhirnya sampai ke restoran Prancis dan memesan makanan—kalau yang ini hanya mereka, karena saya cuma memesan espresso.

Ajaibnya, ketika saya duduk di kursi restoran tersebut, saya menduduki sebuah dompet yang ketika saya cek adalah milik orang Italia.

Saya lihat namanya. Saverio. Ou ou ou. Tampaknya saya harus mengembalikannya. Dan ini dapat dijadikan alasan kenapa saya harus ke Italia.

Tetapi ketika saya bilang pada Ramon dan Georgia, mereka hanya mendesah dan menyarankan untuk mengembalikan saja ke pihak berwajib.

Saya memandang dompet milik Saverio tersebut. Terbuat dari kulit berwarna hitam. Seperti dompet bapak-bapak di Indonesia.

Entendu!” seru Ramon tiba-tiba, membuat saya dan Georgia tampak terkejut.

-----------------------

(1) Saya berasal dari Indonesia.

(2) Oh, Anda berasal dari tempat yang jauh! Mahasiswa?

(3) Mereka tinggal di dekat sini.

(4) Ke mana kalian akan melewati liburan?

(5) Jalan-jalan, makan di restoran, berkemah, nonton teater, mengunjungi museum, dan istirahat di rumah teman.

(6) Setuju!


***
bersambung



Cerpen olehTri Saputra Sakti

9 comments:

  1. wow...cool...btw, di mana bisa baca terusannya.....

    ReplyDelete
  2. halo sigit,

    lanjutannya bisa kamu baca minggu depan, di hari yang sama ;)

    ReplyDelete
  3. Awalnya rada bingung..
    tp pas dibagian dompet dah mulai ngerti dan nebak2 lanjutanya..

    ReplyDelete
  4. Gagas, cerpen yg wkt tu sy kirm udh msuk blm?? N ms tunggu biar tw dtrbitn tu brp lm??
    Smga cerpen yg sy kirm bs dterbtn, hihihi. .

    ReplyDelete
  5. kelihatannya akan bagus, meski sejauh ini masih belum menikmati sepenuhnya *menurutku loh ya?*

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. wah akhirnya di-publish. :) baru tahu hehe.
    Thanks yaaa Gagas :D

    ReplyDelete
  8. entends itu bukannya mendengar ya?

    ReplyDelete
  9. yep. bisa juga artinya mendengar.
    ada beberapa arti, kayak dengar, setuju, mengerti, tahu, dan OKE (mirip setuju dalam menanyakan hal). :)

    ReplyDelete