Aug 5, 2009

Kamila

Aku benci saat Rose menulis namaku dengan c dan e. dan dengan dobel l. Hei, aku ini orang Asia, bukan Eropa!

Apa kalian pikir aku akan ikut-ikutan budaya kalian dengan mudahnya?

“Tapi, Camille jauh lebih indah daripada Kamila,” kilah Rose saat aku marah padanya.

“Suka-suka aku!” bentakku pada saudara angkatku itu. Aku sudah di rumahnya selama enam bulan, dan tidakkah dia mengerti arti namaku sedikitpun? Kamila tersusun atas kaf dengan fathah, mim dengan kasrah, dan lam dengan fathah lagi. Kalau bukan ketiga huruf itu, arti namaku akan berubah!

“Kau tahu bunga camellia? bukannya namamu berasal dari sana?” tanya dia lagi. Dasar seenaknya. mentang-mentang namanya berasal dari nama bunga lantas dikiranya nama semua orang harus dari tetumbuhan berkelopak?

“Ngaco. Kamila artinya sempurna!”

“Bahasa apa itu?”

“Arab!” sergahku cepat.

“Kau bilang kau dari Indonesia!”

“Apa itu berarti namaku harus berbau Indonesia?”

Rose terdiam saat aku menanyakan itu. tahu rasa dia. “Yah, tidak harus, sih.”

“Rose Amelie McKevin,” aku menyebutkan namanya dengan memainkan setiap suku kata sehingga terdengar seperti suara yang dihasilkan saat aku menggesek ketiakku.

“Diam!” dia melemparku dengan bantal.

“Kalau begitu balas aku!”

“Namamu kan cuma Kamila!”

“Memang. jadi kau kalah!” aku membalasnya dengan bantal. Senang rasanya menjadi unggul dibandingkan manusia-manusia kaukasia ini. sekali-kali setidaknya bangsa Indonesia bisa menang melawan orang Eropa.

Aku terkikik, dan dia ikut-ikutan terkikik. Dasar tidak kreatif!

“Apa kalian bertengkar lagi?”

Suara itu menghentikan kikik kami berdua. Lebih tepatnya membekukan. Seperti waktu aku mencelup tanganku di danau beku, rasanya mungkin seperti itu.

“Rose, tak bisakah kau berhenti menggoda Camilla?” Mom mulai meracau. Nah, aku suka saat Rose kena masalah setelah dia membuat masalah denganku. Tapi Mom juga salah. Aku bukan Camilla!

“Camilla, maafkan Rose. Jangan tanggapi dia kalau dia mulai bertingkah lagi,” lanjut Mom. Bagus, aku juga kena. Dari jauh kulihat sorot mata Rose meliar. Kupastikan Rose melihatku juga pada posisi siaga. Dalam diam, pertengkaran kami berlanjut.

Setelah Mom pergi, Rose mendesah, “Kau tahu, mungkin Mom ada benarnya juga.”

“Maksudmu tentang jangan menanggapi tingkahmu?”

“Bukan, tapi namamu lebih bagus kalau ditulis dengan Camilla!”

Argh!

***

Di sekolahku, kelas yang sama dengan Rose, aku duduk di belakang Kodiak. Kami berdua sama-sama jadi korban dalam urusan nama, hanya karena kami bukan orang Amerika. Ini rasis sekali!

“Codiac, maju,” Mr. Preston menyuruhnya membaca puisinya di kelas.

“Sir, namaku Kodiak,” protes Kodiak.

“Terserahlah. Baca saja.”

Kodiak maju dan membaca puisinya. Seluruh kelas menjadi hening, bahkan Rose berhenti mengetik SMS di bawah mejanya. Aku tahu dia tergila-gila dengan Kodiak, dan parahnya dia bisa menulis Kodiak dengan benar. Sedang namaku? Puih.

“Lumayan,” ujar Mr. Preston, “selanjutnya Camilia.” Dia memanggil namaku.

“Ka-mi-la,” koreksiku tegas, dan aku mulai membaca. Seperti biasa, jari-jari Rose kembali bergerak cepat dan beberapa anak di sudut kembali mengobrol. Bagus, hanya Mr. Preston yang mendengarkanku dengan separo hati.

Dan setelah aku membaca cuma Kodiak yang bertepuk tangan. Satu-kosong, Rose.

“Puisimu bagus,” kata Kodiak saat Rose maju, “begitu berbeda.”

“Terima kasih. Orang-orang Melayu biasanya pintar membuat sajak.”

“Oh, kau dari Malaysia?”

“Indonesia,” jawabku santai, “hanya saja daerahku dekat sekali dengan Malaysia. Cuma segini.” aku memeragakannya dengan memisahkan kedua tanganku hingga berjarak kira-kira dua milimeter, “di peta.”

“Wow.” Kodiak melongo. “Lalu kenapa kau pindah ke sini?”

“Beberapa hal terjadi begitu cepat dan tahu-tahu aku di sini.”

Setelah Rose selesai membaca puisinya, tidak ada yang bertepuk tangan. Lalu bel pelajaran berbunyi, sehingga aku dan Rose beringsut ke kantin secepatnya. Sebelum aku meraih pintu keluar, Kodiak menyelipkan selembar kertas di antara buku-bukuku.

Aku membacanya.

namamu bagus.


bersambung




Cerpen oleh Ben Jacob
http://readlicious.blogspot.com/

3 comments:

  1. menurut gw pribadi sih ni cerpen blm kelihatan menarik di part awal, kelihatannya cuma bakal kaya teenlit biasa aja... lalu, menurut saya, sepertinya hal 'nama' ini terlalu berlebihan. bukannya wajar kalo org bule nyebutin nama indonesia yg bukan nama bule dengan agak gimana gitu. jadi sepertinya wajar aja deh kalo seandainya nama itu dispell salah.. kan lidah mereka yg susah... hehe...
    tapi itu cuma menurutku loh,........... jangan marah ya?
    btw, yg bikin cerpen ini tgl d kota mana? kok kayanya deket banget jarak antara malaysia ama kotanya...

    ReplyDelete
  2. buat jacob
    kamu umurnya berapa sih? kayaknya masih SMA ya? *just saw ur blog*

    ReplyDelete
  3. @ mr. lebay: hahaha, iya deh, ngalah :P

    @ lalala: iya... :P

    ReplyDelete