Aug 7, 2009

Poem of The Week

PUISI CINTA PAGI-PAGI


Tiap pagi aku mencipta puisi
untuk wanita bukan lelaki
yang selalu kubuat terharu
tanyanya: bagaimana mencipta puisi?
kujawab: puisi memilih aku
dan aku memilih kamu

ia tersipu
maka aku dinobatkan sebagai lelaki paling romantis
sejagat raya


Tiap pagi di tiap hari, aku mencipta puisi
untuk dirinya yang kucintai
cinta ditukar puisi dan ia akan berikan apa saja
karena puisi jiwa raga hati pikiran perhatian hidup mati
tanyanya: dari mana sumber inspirasi
kujawab: tak perlu tahu
itu rahasia karya seni
ia tersipu
kata-kata di atas kertas bagaikan melodi
meluluhkan hati


Tiap pagi aku mencipta puisi
puisi cinta bagai pelet
yang dengan sebenar-sebenarnya kubuat
sambil berjongkok di toilet
sambil kentut

***

Puisi oleh Muhammad Rivai

15 comments:

  1. Hahahahaha

    kirain mo romantisan.. ternyata
    endingnya bikin ketawa ;)

    nice...

    ReplyDelete
  2. huakakakaakkakkk...
    pantesan aja di tanyain inspirasainya dapa dari mana, jawabnya sedingin salju *cieeee kayak lagu dangdut*, eh ternyata inspirasinya dapat saat boker kekekekekkk

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum. Serasa mendengarkan Wali Band... Di awal mereka mengeluarkan lagu yang nyaris romantis dan belakangan membuat lagu yang membuat tertawa...

    ReplyDelete
  4. Wah ternyata dimuat. Hehe,iya. Ngaku aja deh yg sk nulis pasti sering dapat inspirasi di toilet.

    Waalaikumsalam. Waduh, kok disamain ama wali band. Ini kan puisi serius. Maknanya, sesuatu yg indah (puisi) bisa berawal dari sesuatu yg kotor (toilet), seperti jg kita manusia yg berasal dr sperma dan indung telur.

    ReplyDelete
  5. Alah,vai..ini vai kan?
    Someonefromthesky?

    ReplyDelete
  6. Assalamualaikum,
    ya, itu yg saya rasa ketika membaca puisi ini..

    Oia, mau tanya dong buat semua.. sebenernya mana yg lebih baik, membiarkan pembaca menginterpretasikan apa yg dia baca atau sang penulis mesti menjelaskan apa yg dia maksud meskipun menurut saya semiotika dan simbolisasi akan "pecah" bersamaan munculnya penjelasan sang penulis..
    btw, sperma dan indung telur bukan sesuatu yg kotor lho.. Makasi...wass.

    ReplyDelete
  7. halah vai. aya aya wae ente.
    iseng-iseng yah! wakakakakak

    ReplyDelete
  8. sigit,

    kalau menurut saya pribadi semua hal berawal dari ide, kemudian ide berubah menjadi pesan. nah, pesan inilah yang kemudian disampaikan secara verbal, non verbal, ataupun tertulis.

    dalam komunikasi, pastinya komunikator harus membantu penerima pesan untuk mampu mengintrepretasikan pesan sesuai keinginan komunikator. baik, puisi, cerpen, artikel, dan segala bentuk tulisan lainnya adalah sebuah medium berkomunikasi, bukan? jadi, penting bagi penulis untuk memberi arahan bagi para pembaca agar mereka dapat menangkap maksud atau pesan dari tulisan tersebut. hal ini akan menghasilkan feedback yang diinginkan. FYI, tidak semua pembaca memiliki intelejensia yang baik (termasuk saya, mungkin). jadi alangkah baiknya jika si penulis yang mencoba merendahkan diri dan melebur bersama para pembacanya.

    soal semiotika dan simbol, saya pikir setiap budaya memiliki kesepakatan simbol yang berbeda-beda. jadi, ketika membuat sebuah tulisan (yang ingin di-publish) sangat penting untuk memerhatikan budaya komunitas tempat tulisan kita dipublish.

    mengutip kata-kata salah satu editor favorit saya, christian simamora, "kalau memang mau menulis untuk diri sendiri kenapa merelakan tulisan untuk di-publish?"

    jangan marah, jangan berkecil hati karena ini hanya sebuah pendapat dari saya (yang juga masih awam dalam dunia tulis-menulis)

    oh ya, sperma dna indung telur bukan sesuatu yang kotor, saya setuju. tergantung medium mana yang sedang kita gunakan dan dengan siapa kita berkomunikasi ;)

    salam,

    ReplyDelete
  9. Assalamualaikum.
    Ooo, begitu. Soalnya saya pernah ikut diskusi dan membahas tentang mas Ajip yang menjelaskan isi puisinya. Tapi hal itu dianggap suatu hal yang teledor karna membatasi imajinasi sang pembaca. Dan ketika isi puisi itu jelas, dialektika pun lenyap. Kalau seperti itu bagaimana menurut pendapat mas?
    Kenapa saya harus marah bila ada orang yang sukarela memberi pengetahuan. Its ok!
    Makasi.
    Wassalam.

    ReplyDelete
  10. halo sigit,

    saya tidak menghasilkan sperma, maka saya tidak pantas dipanggil "mas", hehehe...

    begini, saya ini bukan penulis ataupun pakar puisi. jadi tidak punya kapasitas untuk membahas puisi secara dalam dan detail. pengetahuan saya tidak ke arah sana.

    cuma, saya selalu menanamkan kalimat dari sebuah film yang berjudul dead poet society di dalam kepala saya. kalimatnya begini "we don't read and write poetry because it's cute. we read and write poetry because we're part of human race"

    salam,

    ReplyDelete
  11. udah, udah, jangan pada ngomongin sperma. Haha. Iya, nggak kotor, mungkin sekedar menjijikkan bagi sebagian orang (kalau mau bukti, coba kamu bawa sperma kamu trus kamu oles-olesin ke orang di pinggir jalan. Nah terbukti kan? :p). Sebenarnya penulis memberikan sedikit arahan, tapi nggak ngasih secara blak-blakan apalagi mendikte secara otoriter. Dan intrpretasi puisi, bukan arena main tebak-tebakan semacam "Hayo... tebak... apa makna dari puisi ini...?". Interpretasi itu bebas, meski saya memberi penjelasan dari sudut pandang saya, bukan berarti semua orang harus setuju, toh dalam membuat puisi nggak cuma ada satu makna yang ingin dicapai. Saat saya bilang makna puisi ini tetang sesuatu yang indah dihasilkan dari sesuatu yang menjijikan... yah saya kan setengah bercanda, abis nggak ada komentar yang menanggapi secara serius. Hehehe. :D

    The author is dead. I am dead. Don't ask me. Tanya Pring aja tuh yang lebih berpengalaman dalam puisi. :)

    ReplyDelete
  12. hahaha saya setuju. toilet adalah tempat yang paling tepat untuk mencari inspirasi dan menggali ide. haha

    ReplyDelete
  13. lho??
    wah gawat nih co romantisnya..
    kelewat romantis..
    hahaa..
    ^^V

    ReplyDelete