Sep 16, 2009

Lelaki Bermantel Panjang

Orang itu terus saja mengikutiku. Menyusuri tiap jejak langkahku. Ke mana pun aku memilih arah, ia ikut. Jalan pelan-pelan sambil menundukkan kepala sedemikian rupa, sehingga aku tak dapat melihat mukanya yang tertutupi fedora. Siapa, sih, dia? Sungguh mengintimidasi. Entah dari mana asalnya, tapi sejak memasuki gapura kompleks, pria itu terus saja mengikuti. Langkahku makin cepat, ia tetap menyusul. Langkahku lambat, aku malah ketakutan. Ia memang tak melakukan apa-apa—sejauh ini, tapi tingkah lakunya mencemaskan dan mencurigakan.

Pukul 21.30 begini, sudah tak ada angkot yang biasa melewati kompleks. Naik taksi terlampau mewah bagiku. Lagipula, aku sedang irit—tanggal tua, dan upah sebagai penulis lepas di sebuah majalah hampir habis sebelum waktunya. Aku selalu memilih ojek untuk pulang malam. Selain tak ada kendaraan lain, ojek lebih cepat sampai ke kompleks tempat tinggalku, dimana aku tinggal bersama Ibu dan seorang pembantu rumah tangga.

Sebelumnya aku tak pernah cemas pulang semalam apa pun. Hari ini aku menghabiskan waktu di kampus demi menyelesaikan skripsi yang tinggal 2 bab lagi; mencari berbagai referensi pelengkap. Bertemu dosen pembimbing agak sore karena yang bersangkutan mesti mengajar sejak pagi. Tak terlalu lama, tapi butuh revisi di sana-sini. Dan ini sudah yang ke sekian kalinya. Ditambah Ibu Dosen Pembimbing memintaku untuk melengkapi berbagai aspek yang menurutnya kurang. Aku hampir menyerah saja kalau setelah ini masih juga disuruh revisi.

Betapa melelahkan hari ini! Terutama kehadiran lelaki bermantel panjang ini. Sedikit menyesal kenapa tak sekaligus minta diantar sampai di depan rumah oleh tukang ojek. Kalau tahu bakal diikuti seperti ini, tentu aku minta diantar sampai Jl. Bukit Barisan.

Aku berjalan sambil memberanikan diri dan ia masih di belakangku, berbalut mantel panjang selutut warna hitam yang dikancing, tangan yang dimasukkan ke dalam saku mantel, kepala menunduk, bertopi fedora, bercelana abu-abu, dan bersepatu hitam kulit bertali. Mengingatkanku pada mafioso di film The Godfather. Hanya saja... aku tak tahu ia menyembunyikan pistol di balik saku itu atau tidak. Apa ia bertujuan membunuhku atau tidak. Hiii, jangan sampai! Tentu aku masih ingin hidup. Lagipula, punya dosa apa aku sama sanak keluarganya? Sama teman-temannya? Koleganya? Tahu tampangnya saja tidak.

Aku biasa-biasa saja. Aku tak pantas diikuti sedemikian rupa seperti ini. Ataukah kebetulan? Mungkin, kebetulan, di tengah jalan kami berpapasan dan berhubung tempat tinggal kami di RT yang sama kompleks yang luas ini, maka ia terus jalan di belakangku tanpa putus seperti bayangan. Mungkin saja ia akan hilang di belokan depan sehingga tak melengkapi kecurigaanku selama beberapa menit ini. Namun, pria itu tak menghilang di belokan depan, belakang, samping, atau mana pun.

Angin bertiup sedikit-sedikit, kadang banyak-banyak, tapi tetap nyaman. Langit malam ini sepi. Bulan tak kelihatan. Bintang absen berkelap-kelip genit. Awan gemawan hitam menyembul dari mana-mana. Seekor kucing kecil di atas genting entah siapa mengeong keras, nyaring, mungkin minta turun. Tapi kalau memang ia tak bisa turun, bagaimana caranya naik? Apa dia berada di atas situ begitu saja? Atau digondol kucing yang lebih dewasa karena iseng sekaligus sebal dengan kucing kecil kurus tanpa induk dan berisik itu? Ataukah dia terpaksa manjat ke genting karena menghindari sesuatu yang mengikutinya sedari tadi? Seperti aku.

Kutolehkan muka beberapa detik lalu, dan pria berpenampilan seperti mafia itu masih juga membuntuti. Berkali-kali kulambatkan cara jalanku agar pria itu mendahului—barangkali memang ia tak mengikutiku. Tapi ia tak cepat-cepat. Langkahnya berangsur sama lambatnya denganku. Sementara sneakers-ku berdebam-debum di aspal, sepatunya berceletak-celetuk membelah sunyi yang meningkatkan kecemasanku.

Sambil berbelok ke sebuah gang, aku melirik keberadaan lelaki itu. Jalur ini memang jalan pintas menuju rumahku. Jalur biasa jauh. Terlalu jauh untuk menyelamatkan diri secepatnya. Aku bersumpah apabila orang itu masih juga mengikuti, aku akan menghajarnya dengan tongkat kasti dan ketapel. Asal tahu saja, aku masih suka mengantongi ketapel ke mana pun pergi. Memang agak aneh bagi seorang perempuan usia 20-an mengantongi ketapel bukannya semprotan merica atau batubata, tapi melakukannya menjadi jaminan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Entah kenapa.

“Erika…”

Hmm? Aku terkesiap seraya melambatkan jalan—hampir berhenti, tapi atas alasan keselamatan aku mempercepat langkah kakiku yang mulai gemetar ketakutan ini. Sumpah, aku mendengarnya membisikkan namaku: Erika… Apakah aku mengenalnya?

Mendongaklah sedikit, Tuan Mafioso!

bersambung

Cerpen oleh Novrisa Wahyu Wulandari

6 comments:

  1. Bkin pnasaran..sip

    ReplyDelete
  2. meski sudut pandangnya masih berasa agak kaku
    kurang utuh
    tetapi memang ceritany bagus
    kontennya mantrab

    ReplyDelete
  3. ga sabar nunggu kelanjutan ceritanya

    ReplyDelete
  4. siip . . . terus nulis, & bagi2 tulisanya

    ReplyDelete