Jul 15, 2009

Entedu! Entedu! (2)

”Setuju untuk apa?” Georgia menyikut Ramon yang sangat aktif itu.

Ramon terdiam, menunjuk-nunjuk saya. Saya jadi bingung sendiri. Berbicara sepatah kata pun tidak, tetapi Ramon tiba-tiba bilang setuju dengan saya. Ramon ngimpi apa lagi, sih? Otaknya memang kurang waras!

”Italia, Saverio. It’s so cool,” ujar Ramon dengan cengiran lebarnya.

Saya sangat amused mendengar persetujuan dari Ramon. ”You got my point, boy!”

Georgia tampak kesal. ”Ke Italia naik apa? Malas ah,” ujarnya cuek.

We can go without you, lady!” seru Ramon.

Lagi-lagi saya sumringah dan amused mendengar jawaban Ramon yang pasti. Ini menye-nangkan, sangat menyenangkan. Panorama Italia pun menari-nari di benak saya.

Georgia yang satu-satunya cewek di antara kami, memang tukang ngambek. Dan dengan secepat kilat dia menyeringai. ”Lebih baik aku pulang! Kalian memang cowok-cowok menyebalkan!”

Saya sangat senang dengan tawaran Ramon ini. Saya pun tidak peduli dengan ejekan dari Georgia. Bisa diurus nanti. Biasanya kan cewek memang seperti itu.

Roma dan Valencia adalah dua kota yang saya idamkan dari dulu.

Let’s go!” Ramon menepuk pundak saya.

”Eh?” Saya heran. Apa maksud dari ajakannya itu? Apa Ramon bermaksud ke Italia sekarang juga?

”Sekarang?”

”Kapan lagi. Lekas,” tukas Ramon. ”Saverio itu kenalanku. Nanti akan aku kenalkan sama kamu. Lagipula dia bisa bahasa Indonesia juga sedikit karena istrinya orang Indonesia. Waktu aku mengunjungi mereka, mereka bilang suka dengan rendang. Sekalian ingin tahu bagaimana rasa rendang. Di Bali aku tidak pernah makan rendang.”

Whatever he talked. Yang saya perlukan memang refreshing ke Italia.

Ramon pun mengacuhkan Georgia yang pergi dan merangkul saya untuk segera main ke rumah Saverio. Nampaknya saya lebih tertarik dengan Italia daripada kota ini. Dulu sih iya, saya sangat ingin sekali ke Paris. Ternyata hanya begini saja. Awalnya memang rasanya menyenangkan, tetapi kian lama saya bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja. Saya maunya berpetualang! Ke tempat yang belum pernah saya kunjungi ke negara lain dan itu adalah Italia.

”Kamu lupa dengan paspor?! Saya nggak punya paspor. Nanti di perbatasan saya harus bilang apa?!” seru saya panik, baru ingat kalau ada yang kurang.

Ramon nyengir lebar sekali. Ia menepuk pundak saya. ”Keep calm, tenang saja. Percayakan padaku! C’est entendu?”

Entendu!” seru saya riang. Untunglah housemate saya adalah Ramon. Dia memang penuh dengan kejutan.

”Untuk bisa melewati perbatasan, kita harus pergi ke tempat temanku. Kita harus ke sana, Wil,” ucap Ramon.

Saya hanya manggut-manggut menurut. Mau dikata apa, saya memang tidak mengerti. Urusan begian saya serahkan pada yang ahlinya saja.

Kami pun sampai di apertemen bernuansa Italia dengan dominasi warna cokelat yang kental. Apertemen ini nampaknya mewah. Hmm… mungkin temannya Ramon ini adalah orang penting yang mengurus soal begituan. Yeah, saya percaya dengannya.

Ia menuntun saya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Saya pun mesem-mesem senang. Bukan cuma liburan ke Italia saja, ternyata saya akan menambah dua orang kenalan. Yang satu adalah teman Ramon ini, dan yang kedua adalah Saverio—si pemilik dompet.

Ramon mengetuk pintu dua kali. Dan langsung direspons dengan cepat dengan empunya tempat. Saya terpana melihat interior dari apertemen ini. Benar-benar indah.

Come in, Ramon,” ujar yang membukakan pintu. Wow, tinggi sekali orang itu. Sepertinya orang Eropa juga. Lelaki itu tampaknya juga orang Prancis, karena saya mendengar pengucapan bahasa Inggris dengan sengau—khas Prancis sekali. ”And you’re too.”

Saya mesem-mesem, masuk.

Orang itu menyuruh saya dan Ramon agar tidak sungkan duduk dan menikmati sampanye milik-nya. Rasanya sangat tidak cocok minum alkohol di musim panas begini.

Get off your clothes,” kata cowok ini.

Saya bergidik heran—sekaligus was-was. Kata-kata yang kurang masuk akal itu…

Saya mencoba melirik Ramon yang tampaknya enteng sekali membuka semua bajunya—pun itu kaus dalam dan celana dalamnya. Dengan tatapan nanar saya menatap dua orang di hadapan saya.

C’est à moi (7). Habis itu kamu, Wil.” Ramon menatap saya penuh arti. Ia langsung memeluk pria yang namanya tidak saya tahu itu.

Saya menelan ludah, bergidik ngeri.

Pikiran-pikiran ngaco pun hadir di benak saya sejak melihat pemandangan ajaib di hadapan saya: dua orang sesama laki-laki berhubungan seks. Menjijikan.…

Saya pun langsung ambil tindakan. Saya berlari ke arah luar dan mencoba membuka pintu. Tetapi ternyata sudah dikunci oleh Ramon. Saya memandang ke arah dua orang itu, dan mereka tertawa tertahan. Ramon pun maju ke hadapan saya.

”Tak perlu terkejut, Wil. Aku sudah lama menanti saat ini, menanti kau akan jatuh di pelukanku. Bukan di pelukan Georgia. Aku terus memperhatikanmu tiap kamu tidur di kamar. Sungguh menggairahkan.” Ramon tersenyum.

Ia menahan tangan saya, sedangkan orang yang bernama Saverio itu melucuti baju saya satu per satu.

Saya menelan ludah—lagi.

Sinting!

Gila!

Ramon memang penuh kejutan, tetapi bukan kejutan yang seperti ini yang saya mau!

Padahal saya dan Ramon sudah berteman selama…

Ah, ternyata waktu segitu tidak membuktikan kau tahu tentang orang itu. Saya jadi ingat pepatah Indonesia. Hell, saya lebih cinta Indonesia! Saya tidak mau di sini! Saya tidak mau di Prancis! Saya tidak mau ke Italia!

Saya ingin bertolak ke Indonesia!!!

* * *

…Built a wall around my heart, I'll never let it fall apart. But strangely I wish secretly, it would fall down while I'm asleep…

Lagu Nothing Lasts Forever milik Maroon 5 yang saya suka mengalun samar, membuat saya terjaga dari tidur saya.

Tiba-tiba saja saya ingat peristiwa itu. Peristiwa konyol itu di mana saya telah—diperkosa?—oleh dua warga Prancis dan Italia itu…

”Kak Wil, ayo sarapan! Jangan ngayal melulu pergi ke Eropa! Belajar yang bener, baru pergi ke Italia!” seru suara khas yang sangat saya kenal itu—Keshia.

Saya pun mengucek-ucek mata saya.

Ini ternyata mimpi! Saya masih ada di rumah, masih memegang buku Lonely Planet negara Prancis dan Italia. Olalala… kadang mimpi memang terasa nyata!

Saya pun bersyukur, karena ini semua tidak terjadi. Saya pun langsung beranjak turun ke bawah rumah untuk sarapan bareng keluarga saya. Mungkin saya bermimpi karena membaca buku itu, buku untuk tour guide yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Saya juga baru tahu arti entendu dari buku itu—yang ternyata membuat saya bermimpi yang tidak-tidak.

Tapi sebelum itu, saya risih dengan sebuah benda yang terselip di buku Lonely Planet Italia. Saya pun mengambil benda tersebut.

Sebuah dompet yang saya kenal…

Saya pun membuka dompet itu dan melihat kartu pengenal.

Namanya Saverio, dan terdapat sebuah tulisan tangan yang berbunyi: ”C’est entendu?”

---------------------------

(7) Ini giliranku.


***
selesai



Cerpen oleh Tri Saputra Sakti

3 comments:

  1. Cerita yang menarik, memakai kata "saya".
    Cerita yang lucu, karena ending yang membuat merinding.
    Cerita tentang gay agak yang vulgar.
    agak membingungkan karena tokoh wanita eropa itu ditampilkan untuk apa?? Lalu penokohan pencerita sendiri agak kurang. Apalagi tiba-tiba saja mereka melakukan seks, meski itu mimpi sebaiknya pembaca diberikan kisah yang kayaknya lebih nyata.

    maaf kalau saya salah. Tetapi saya suka dengan tokoh yang mimpi ke luar negeri. Saya juga punya mimpi seperti itu. Walaupun pasti tak ingin didului mimpi di perkosa.... hiiiiiii......

    ReplyDelete
  2. thanks for comment. :)
    gay vulgar? entah kenapa ya, gue suka bertanya-tanya (it really haunts me a loooot!), kenapa bisa ada kaum seperti demikian. dan gue memaklumi masyarakat dunia yang begitu multikultural, dan kayaknya boleh juga ditaro di cerita. :P

    yep! gue juga mengakui kalo tokoh cewek eropa hanya bumbu aja. abis kalo tokohnya cuma para cowok, kayaknya gak enak hehe.

    iya sih, mungkin banyak yang gak ngerti ttg tiba" ingin melakukan seks. tp namanya cerpen, harus intens TT gue juga mengakui banget I'm not a writer as well, hanya untuk iseng di waktu luang! :D

    Yep! gue juga pengen ke italia, dan selandia baru! hehehe.

    ReplyDelete