Aug 26, 2009

George (2)

"Yak, sepertinya waktunya sudah cukup. George harus berangkat secepatnya untuk memulai tour perdananya," guruku tiba-tiba berkata.

"Apa kau sudah selesai?"

"Belum," aku menggerutu.

Oke, aku bodoh. Tuhan, ulangi waktu beberapa detik saja untukku agar bisa menjawab pertanyaan George dengan benar!

Tangannya tiba-tiba sudah sampai di mejaku. Jari-jari panjangnya hampir menyentuh jari-jariku hanya beberapa milimeter--

"Ini untukmu," George berkata dengan pelan. Kuperhatikan tatapan sopannya sambil merasakan tangan kami yang sedang bersentuhan. Dingin. Surat untukku dari dia pun sudah di genggamanku.

"Aku belum selesai," aku berkata. Kata-kataku hampir tidak bisa keluar dari tenggorokanku sebagaimana mestinya.

"Apakah suratnya panjang?" ia bertanya. Bukan panjang bodoh, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Berhenti menatapku seperti itu.

"Kau mau yang panjang?" aku tanya balik.

"Surprise me."

George berdiri dari tempat duduknya lalu menyebarkan surat-surat yang ditujukan kepada yang lain. Guruku membantunya. Aku mengambil oksigen di sekitarku sedalam mungkin. Aku benar-benar hilang inspirasi.

Setelah ia sudah balik ke bangkunya untuk mengambil tasnya, ia menaruh semua surat dari teman-teman sekelasku di tasnya yang berwarna kelabu itu. Ia menatapku lalu bertanya, "sudah?"

Aku mengangguk. Kulipat suratnya lalu kuberikan kepada dia. Sekali lagi, tangan kami bersentuhan. Firasatku sentuhan itu akan jadi yang terakhir. Pertemuan kami ini pun akan jadi yang terakhir.

Ia tiba-tiba tersenyum.

"Ada apa?" aku bertanya.

"Kau tidak ingat, ya?"

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak mengerti apa yang ingin ia sampaikan.

"Tidak apa, lupakan saja," ia menjawab dengan datar. Ia berjalan ke depan kelas, mengucapkan selamat tinggal kepada semuanya untuk terakhir kalinya lalu meninggalkan ruangan. Aku masih pangling tapi aku yakin, yakin sekali bahwa ia tidak menaruh suratku di dalam tasnya. Ia menggegamnya erat di tangan kirinya.

"Ha! Konyol sekali anak itu!" Salah satu murid di kelasku tiba-tiba mengetuk keheningan yang ganjil itu. Aku melihatnya menggenggam surat dari George. "Ia hanya menulis, 'Aku suka baju oranyemu.' Konyol sekali!"

"Ia menulis 'Cuaca hari ini panas sekali, ya?' di suratku!" perempuan di sampingku berkata.

"Hey, ini tulisan seorang rockstar! Akan laku keras kalau dilelang!!"

Keributan pun membuat kelas rusuh. Diantaranya terkesima dari surat George, ada yang membentuk lingkaran, berbisik-bisik rencana penjualan surat berisikan tulisan George, sisanya membuat kertasnya jadi kertas pesawat.

***

Hening. Istirahat, semuanya sudah keluar dari kelas kecuali aku. Aku membuka suratnya lalu perlahan membaca. Hanya ada dua buah kata yang tersirat di kertas putih itu.

Maafkan aku.

Untuk orang lain, kedua kata itu tidak akan berarti apa-apa. Tapi dua kata itu mampu membasahi kedua pipiku. Mataku terselimuti butiran air mata yang tak mampu kubendung, merabunkan mataku, menyengat kulitku saat airnya meraba pipiku perlahan-lahan. Kehangatan dari air mataku bagaikan buih-buih yang satu-satunya bisa bersimpati kepadaku saat itu. Aku benci diriku sendiri. Sekarang aku mengerti mengapa George menanyakan apakah aku ingat sesuatu. Sweater hijau yang ia kenakan milikku.

Saat itu musim hujan, anginnya terlalu berbahaya untuk siapapun yang keluar dari gedung rumah sakit. Aku tidak bisa pulang, dia tidak bisa keluar karena harus menemani bapaknya. Aku heran mengapa ia hanya memakai baju lengan panjang yang sangat tipis. Aku yang memakai tiga rangkap sweater pada malam itu memberikan salah satunya kepadanya.

Kami bercerita dari guru-guru yang berbau kubis dan sup sampai cita-cita kita di masa depan. Aku sudah tahu suatu saat ia akan meninggalkan sekolah kita menjadi apa yang diinginkannya. Semua sudah terjadi saat pertama kalinya aku melihatnya di TV, memainkan alunan gitar dengan kemampuan bakatnya dan potensialnya yang amat besar.

"Bagaimana denganmu? Apa yang kau inginkan di dunia yang belum tersampaikan?"

"Memakan burger terbesar," aku jawab lirih.

Ia tertawa. Tertawa lepas sekali. Malam itu aku ingin menghiburnya sebisa mungkin. Aku mendengar bahwa bapaknya kian keras dengannya, adu fisik pun sering terjadi di rumahnya. Kunjungan ke suster sekolah yang sering, memar di tangannya menjelaskan segalanya.

Walaupun malam itu hanyalah malam dimana aku berbincang panjang lebar dengannya. Semenjak itu, sejak malam itu, ia tidak pernah balik lagi ke sekolah. Seperti Tuhan sudah mendesain kejadian itu. Seperti Tuhan menginginkan aku terlukai oleh kepergiannya. Seperti Tuhan ingin menyakitiku.

Kuusap tangisan terakhirku. Aku tidak terisak, aku tidak bersuara, hanya air saja yang keluar dari mataku dan tidak ada yang bisa memberhentikannya selain waktu. Aku menyesal memberikan surat yang kuberikan kepadanya. Aku sungguh menyesal.

***

Sesosok lelaki berumur belasan tahun sedang duduk di salah satu kursi bandara. Ia memperhatikan layar TV yang memberitahukan kapan keberangkatannya ke New York. Tangannya memegang secarik kertas, kertas yang satu-satunya yang akan dibacanya. Surat dari dia, si pemberi sweater hijau. Ia membukanya, menarik nafas perlahan, tidak melepasnya sampai ia mengedipkan kedua matanya untuk memastikan kata-kata yang tertera di kertas itu benar.

Selamat jalan.


Cerpen oleh Nadya Imanda Sabran

16 comments:

  1. gila tak menyangka bakatmu nak.. nak.. well done

    ReplyDelete
  2. wow, nadya bagus sekali tulisannya! Sangat indah bahasanya.

    ReplyDelete
  3. two thumbs up.. saya tunggu lanjutannya loh mba nadya.. =D

    ReplyDelete
  4. wow, bagus banget
    membuat saya terkenang akan masa lalu saya bersama kekasih saya

    ReplyDelete
  5. suka cara kamu menata kata :) salah satu daya tarik cerpen ini jadi ga bosen

    ReplyDelete
  6. bagus bgd! tapi... euh ending'a bikin gregetan! ehehe...
    dbikin novel ajh Nad biar tambah keren tapi harus HAPPY ENDING! ahaha...

    lam kenal ajh ^_^v

    ReplyDelete
  7. yupz... bener bgd...
    bikin novel aja yo?!
    tata bahasamu udah bagus, KEREN...!

    ReplyDelete
  8. Waduh, banyak yang anonymous, bingung mau berterima kasih ke siapa!

    Aww... Terima kasih yang menyempatkan untuk komen, inshallah saya akan bisa bikin novel, but that's not that easy. :) Tapi ngeliat komen-komen, saya tambah termotivasi. Thanks again!

    ReplyDelete
  9. bran... wow!! kemajuan yang puesat!!!! mana yg george 1?? itu emang judulnya george (2) atau george bagian 2?? keren!

    ReplyDelete
  10. ga ada rating ya?? kalo ada, bakalan gw rate sampe jebol ini!!
    wahai gagasmedia yg terhormat. jadikan cerpen temanku ini sebuah novel.. amiin. haha

    ReplyDelete
  11. SETUJU!! jadikan cerpen sabran ini novel!!

    ~karimah~

    ReplyDelete
  12. teman-teman,

    terima kasih untuk partisipasinya memeriahkan tulisan nadya.

    omong-omong, ini judulnya adalah Goerge. angka dua hanya sebagai penanda kalau bagian ini adalah bagian ke dua ;)

    ReplyDelete
  13. nadia, kamu lebih cantik pake jilbab.
    hehe
    nice story. tapi kalo bisa pake nama indonesia, soalnya kesannya agak gimana gitu kalo kebarat-baratan.

    cheers

    ReplyDelete